nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

G20 Soroti Pelemahan Ekonomi Global, Apa Saja yang Dibahas?

Rani Hardjanti, Jurnalis · Senin 10 Juni 2019 15:38 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 10 20 2064938 g20-soroti-pelemahan-ekonomi-global-apa-saja-yang-dibahas-adux32GFPw.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Di kala masyarakat Indonesia merayakan Lebaran, para menteri ekonomi dan gubernur bank sentral dunia justru fokus membahas tekanan ekonomi global. Tidak ketinggalan, Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Tensi perdagangan yang kembali meningkat mewarnai diskusi pada pertemuan otoritas keuangan dan moneter tersebut. Di mana hal ini dinilai telah berdampak negatif bagi ekonomi global, serta mempengaruhi keyakinan dunia usaha/investor. Bila berlanjut tanpa solusi, tensi perdagangan akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,5%, lebih besar dari perhitungan sebelumnya yang hanya sebesar 0,2%.

 Baca Juga: Rating Utang dan Daya Saing Naik, Menko Darmin: Ini Mengurangi Tekanan Global

Lalu apa saja yang dibahas dalam pertemuan (yang digelar 8-9 Juni 2019 di Fukuoka, Jepang) tersebut? Sri Mulyani yang hadir dalam pertemuan skala global tersebut membeberkannya dalam sebuah postingan Facebook, yang dikutip Senin (10/6/2019).

Hari kedua pertemuan Menkeu dan Gub Bank Sentral G20 fokus membahas mengenai :

1. International Taxation : membahas kemajuan kerjasama internasional untuk mencegah penghindaran pajak melalui “Base Erosion and Profit Shifting (BEPS) yang dimulai sehak 2012, termasuk penanganan perlakukan perpajakan untuk kegiatan ekonomi digital. Digital ekonomi mengubah model bisnis yang menghilangkan kehadiran fisik suatu perusahaan. Ini menyulitkan perhitungan kewajiban pajak. Diperlukan sistem perpajakan baru yang inklusif dan adil. Disepakati dua pilar pendekatan. Pilar Pertama, menyangkut penetapan “New profit allocation right” dimana hak memajak tidak ditentukan kehadiran fisik, namun berdasar economic relevance/ Economic presence. Ini dikenal sebagai New nexus.

 Baca Juga: Pengusaha Minta Pemerintah Antisipasi Penurunan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global

Pilar kedua, penerapan untuk menjamin minimum effective taxation. Ini untuk menghadapi kecenderungan perusahaan menghindari pajak dengan menggunakan negara/jurisdiksi yang memiliki tingkat pajak sangat rendah atau bahkan tidak ada pajak sama sekali. Kedua pilar ini dapat melindungi kepentingan pajak Indonesia - dari potensi kehilangan pajak. Kita perlu makin meningkatkan kemampuan Direktorat Jendral pajak untuk menggunakan kerjasama global dalam mengumpulkan penerimaan pajak yang optimal untuk kepentingan pembangunan Indonesia.

2. Topik kedua Global imbalances: membahas negara yang memiliki current account surplus - seperti RRT, Jerman dll versus mereka yang defisit (USA). Global imbalances memicu sentimen anti perdagangan internasional dan munculnya proteksionisme baik dari sisi perdagangan maupun arus modal. Meski global imbalances sudah berkurang 40% sejak global krisis 2008, namun masih tetap tinggi. Pengawasan komponen imbalances seperti ekspor dan impor barang dan jasa, serta keseimbangan arus modal dan income serta komposisi Invetasi global, juga memahami sumber imbalances seperti kebijakan fiskal dan gejolak harga komoditas - sangat penting untuk mencegah shock (sudden reversal) dan volatilitas.

 Ekonomi Dunia

3. Topik ketiga Aging Demografi and Policy implications: membahas perubahan demografi di negara yang sudah semakin menua - dihadapkan beban fiskal, kemampuan dana pensiun, kebutuhan kesehatan dan penurunan pertumbuhan ekonomi. Negara dengan demografi muda, perlu menciptakan kesempatan kerja dan Investasi sumber daya manusia (pendidikan, pelatihan, kesehatan). Kita dapat belajar dari situasi Brazil. Argentina dan Meksiko yang menghadapi beban fiskal pensiun yang sangat berat dan tidak sustainable, juga belajar dari negara maju yang mengalami aging dengan kondisi fiskal dan ekonomi yang menantang. Reformasi pensiun dan pasar tenaga kerja perlu dilakukan secara komprehensif dan hati-hati, untuk memecahkan masalah demografi.

4. Infrastruktur Investment : dibahas mengenai prinsip Investasi di bidang Infrastructure yang berkualitas. Bagaimana negara G20 dapat saling belajar untuk membantu infrastruktur secara baik dan berkualitas dan sustainable dan mampu membangun asset class untuk pembiayaan yang makin beragam dan efisien.

5. Dalam pertemuan G20 juga dibahas fragmentasi pasar keuangan, financial innovation, dan fintech, dan kerjasama anti money laundering dan financing terorism. Kemajuan teknologi dan munculnya inovasi produk, instrumen dan infrastruktur keuangan menyebabkan tantangan terhadap regulasi, pengawasan dan keamanan bagi masyarakat. Masalah ini memerlukan kerjasama global, karena situasi tantangan yang tidak mengenal batas negara.

Pertemuan G20 ditutup dengan komunike berisi komitmen saling bekerjasama menjaga ekonomi global, meskipun dibayangi suasana persaingan antar negara besar.

Sebelum kembali ke Indonesia, saya menyempatkan bertemu dengan masyarakat Indonesia yang sedang tugas belajar atau bekerja di Fukuoka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini