nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perang Dagang Memanas, Sri Mulyani Cs Waspada

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 12 Juni 2019 10:41 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 12 20 2065546 perang-dagang-memanas-sri-mulyani-cs-waspada-GTAUivF8T5.jpg Foto: Koran Sindo

JAKARTA - Pemerintah terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi ketidakpastian global yang meningkat akibat perang dagang yang semakin memanas. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, perekonomian global masih dipenuhi tantangan dan ketidakpastian akibat eskalasi perang dagang, persaingan geopolitik, dan fluktuasi harga komoditas.

Kondisi ini menyebabkan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, pelemahan investasi, dan perdagangan global. “Pada pertemuan G20 di Jepang, suasananya masih terasa bahwa posisi belum berubah. Dalam arti ketegangan dari perdagangan internasional sisi retorika maupun action masih sama, bahkan ada kecenderungan lebih menguat,” ujarnya di Jakarta, kemarin. Dalam pertemuan G20 di Jepang pada Sabtu pekan lalu, Sri Mulyani menyebutkan, seluruh lembaga keuangan internasional memangkas proyeksi per tumbuhan ekonomi global sebagai imbas dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Baca Juga: Ancaman Kenaikan Tarif oleh Presiden Trump Rusak Sistem Perdagangan Global

Pertumbuhan ekonomi dunia untuk 2019 telah dipangkas 0,3% menjadi 2,6% menurut Bank Dunia, 3,3% menurut International Monetary Fund (IMF), dan 3,2% menurut Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD).

Pertumbuhan perdagangan global hanya mencapai 2,6% merupakan yang terendah sejak krisis keuangan global 2008. Tekanan global ini menyebabkan kinerja ekspor Indonesia mengalami perlambatan.

”Kalau dulu pertumbuhan dari perdagangan internasional bisa dua kali lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi dunia yang mencapai 5% atau bahkan 6%, sekarang hanya tumbuh 2,6%,” ungkapnya.

Menurut dia, risiko dari ketegangan perdagangan global akan berdampak pada semester kedua tahun ini. “Pada semester kedua, dengan interest rate cenderung turun namun di sisi lain lingkungan global melemah, kita bisa boost investasi.

Baca Juga: Ide Presiden Trump Kenakan Tarif untuk Meksiko Bisa Bahayakan Ekonomi Global

Sebab perhatian terhadap kenaikan suku bunga jadi lebih rendah. Bahkan beberapa negara sudah mulai menurunkan suku bunga,” tuturnya. Meski begitu, keputusan investasi tidak hanya dilakukan dari sisi cost of fund , melainkan juga dari sisi prospek ekonomi.

Diharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat tumbuh di atas 5% sehingga memberikan confidence terhadap investor, tapi di sisi lain cost of fund juga semakin turun.

“Oleh karena itu, kita tetap harus fokus agar motor penggerak ekonomi kita dari sisi domestic demand, selain konsumsi, government spending, investasi bisa back-up .

Sementara ekspor akan bisa diminimalkan sebagai dampak dari pelemahan global ekonomi,” kata Sri Mulyani. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pemulihan ekonomi global lebih rendah dari perkiraan.

Hal ini disebabkan prospek pertumbuhan ekonomi AS yang menurun, perbaikan ekonomi Eropa yang diperkirakan lebih lambat, serta ekonomi China diperkirakan belum kuat. “Risiko eskalasi perang da - gang yang meningkat turut menurunkan prospek ekonomi global 2019.

BI memperkirakan PDB dunia 2019 dan 2020 mencapai 3,3% dan 3,4%,” ujarnya. Perry menambahkan, pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat juga berpengaruh pada harga komoditas global menurun, meskipun harga minyak sempat naik dipengaruhi faktor geopolitik. “Pada 2019, harga komoditas ekspor Indonesia berpotensi menurun dan kembali positif pada 2020,” ungkapnya.

Sementara itu, The Institute of Chartered Accountants in Eng land and Wales (ICAEW) dalam laporan terbaru menyebutkan, dengan melambatnya perdagangan global dan meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China, maka pertumbuhan ekonomi di wilayah Asia Tenggara pada tahun ini diperkirakan akan menurun menjadi 4,8% dari 5,3% pada tahun 2018.

ICAEW mencatat pertumbuhan PDB di seluruh wilayah Asia Tenggara melambat menjadi 4,6% pada kuartal I/2019 dari 5,3% yang tercatat pada paruh pertama 2018 (H1/2018).

Baca Juga: Ide Presiden Trump Kenakan Tarif untuk Meksiko Bisa Bahayakan Ekonomi Global

Hal ini merupakan hasil dari menurunnya pertumbuhan ekspor di seluruh perekonomian Asia Tenggara sehubungan dengan melemahnya permintaan impor China, melambatnya siklus teknologi informasi komunikasi (TIK) global, dan meningkatnya proteksionisme selama setahun terakhir.

Total volume ekspor secara rata-rata adalah 1% lebih rendah dibandingkan kuartal I/2018. Hal serupa juga terjadi dengan terus menurunnya ekspor di seluruh wilayah Asia Tengara pada kuartal kedua, karena hanya Vietnam yang tidak mengikuti tren.

Walaupun pertumbuhan negara ini juga menurun sejak tahun lalu. Di tengah ketegangan baru perdagangan AS-China, tren ini kemungkinan akan berlangsung hingga tahun depan.

“Kami berharap ekspor dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan terus meningkat, walaupun berada di bawah tekanan ketegangan perdagangan AS dan China yang sepertinya akan terus berlanjut,” ujar Penasihat Ekonomi ICAEW & Oxford Economics Lead Asia Sian Fenner melalui keterangan tertulisnya.

“Dengan volume ekspor yang sudah berada di titik rendah sejak awal tahun, setiap bertambahnya ketegangan perdagangan dua ekonomi terbesar dunia tetap akan memperlambat pertumbuhan regional,” katanya.

(Oktiani Endarwati/Inda)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini