Perang Dagang Memanas, Sri Mulyani Cs Waspada

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 12 Juni 2019 10:41 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 12 20 2065546 perang-dagang-memanas-sri-mulyani-cs-waspada-GTAUivF8T5.jpg Foto: Koran Sindo

Hal ini disebabkan prospek pertumbuhan ekonomi AS yang menurun, perbaikan ekonomi Eropa yang diperkirakan lebih lambat, serta ekonomi China diperkirakan belum kuat. “Risiko eskalasi perang da - gang yang meningkat turut menurunkan prospek ekonomi global 2019.

BI memperkirakan PDB dunia 2019 dan 2020 mencapai 3,3% dan 3,4%,” ujarnya. Perry menambahkan, pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat juga berpengaruh pada harga komoditas global menurun, meskipun harga minyak sempat naik dipengaruhi faktor geopolitik. “Pada 2019, harga komoditas ekspor Indonesia berpotensi menurun dan kembali positif pada 2020,” ungkapnya.

Sementara itu, The Institute of Chartered Accountants in Eng land and Wales (ICAEW) dalam laporan terbaru menyebutkan, dengan melambatnya perdagangan global dan meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China, maka pertumbuhan ekonomi di wilayah Asia Tenggara pada tahun ini diperkirakan akan menurun menjadi 4,8% dari 5,3% pada tahun 2018.

ICAEW mencatat pertumbuhan PDB di seluruh wilayah Asia Tenggara melambat menjadi 4,6% pada kuartal I/2019 dari 5,3% yang tercatat pada paruh pertama 2018 (H1/2018).

Baca Juga: Ide Presiden Trump Kenakan Tarif untuk Meksiko Bisa Bahayakan Ekonomi Global

Hal ini merupakan hasil dari menurunnya pertumbuhan ekspor di seluruh perekonomian Asia Tenggara sehubungan dengan melemahnya permintaan impor China, melambatnya siklus teknologi informasi komunikasi (TIK) global, dan meningkatnya proteksionisme selama setahun terakhir.

Total volume ekspor secara rata-rata adalah 1% lebih rendah dibandingkan kuartal I/2018. Hal serupa juga terjadi dengan terus menurunnya ekspor di seluruh wilayah Asia Tengara pada kuartal kedua, karena hanya Vietnam yang tidak mengikuti tren.

Walaupun pertumbuhan negara ini juga menurun sejak tahun lalu. Di tengah ketegangan baru perdagangan AS-China, tren ini kemungkinan akan berlangsung hingga tahun depan.

“Kami berharap ekspor dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan terus meningkat, walaupun berada di bawah tekanan ketegangan perdagangan AS dan China yang sepertinya akan terus berlanjut,” ujar Penasihat Ekonomi ICAEW & Oxford Economics Lead Asia Sian Fenner melalui keterangan tertulisnya.

“Dengan volume ekspor yang sudah berada di titik rendah sejak awal tahun, setiap bertambahnya ketegangan perdagangan dua ekonomi terbesar dunia tetap akan memperlambat pertumbuhan regional,” katanya.

(Oktiani Endarwati/Inda)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini