Lebih lanjut, sisa laba bersih digunakan untuk cicilan dana cadangan sebesar Rp24,7 miliar dan model kerja perseroan sebesar Rp66,8 miliar yang dicatat sebagai laba yang ditahan.Sebagai informasi, emiten produsen dan penyedia perhiasan emas ini menargetkan utilisasi produksinya menjadi 35% hingga akhir 2019. Adapun utilisasi produk HRTA baru sebesar 31,6% di tahun 2018.
Kata Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk, Sandra Sunarto, saat ini yang paling rendah adalah produksi kalung, maka perseroan akan lebih fokus menggenjot produksi kalung. Dirinya menjelaskan, perusahaan lebih fokus menggenjot produksi kalung karena produksi seluruhnya menggunakan mesin sehingga tidak banyak Sumber Daya Manusia (SDM) diperlukan.
Baca Juga: Hartadinata Bukukan Kenaikan Laba 7,6% Sebesar Rp101,95 Miliar
Sebagai gambaran, HRTA memiliki empat pabrik. Tercatat di tahun 2018, total utilisasi produksi keempat pabrik tersebut sebesar 31,6% atau rata-rata produksi per bulannya 789 kg. Padahal kapasitas per bulan bisa mencapai 2.500 kg. Sementara itu, untuk saat ini utilisasi produksi sudah meningkat, menjadi rata-rata 800 kg per bulan.
Tiga dari empat pabrik memproduksi casting, yakni pabrik Sukamenak 185, pabrik Sukamenak 179A, dan pabrik Kopo Sayati 165. Produk casting yang dimaksud seperti cincin, kalung, giwang, liontin, dan produk dengan desain yang dipesan secara khusus. Di sisi lain, terdapat satu pabrik yakni pabrik Sapphire yang khusus memproduksi kalung mesin dan produk-produk berdesain sederhana. Pabrik inilah yang akan menjadi fokus pengembangan utilisasi produksi, sebab utilisasinya baru mencapai 11% dengan rata-rata produksi 118 kg per bulan.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.