nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peringatan Hari Segitiga Karang, KKP Dukung dan Apresiasi Peran Perempuan di Sektor Kelautan

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 21 Juni 2019 10:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 21 320 2069062 peringatan-hari-segitiga-karang-kkp-dukung-dan-apresiasi-peran-perempuan-di-sektor-kelautan-w75rTNwQM2.jpg Foto: Peringatan Hari Segitiga Karang (Dok KKP)

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendukung pengarusutamaan gender sebagai salah satu strategi dalam pelaksanaan program maupun pembuatan kebijakan.

Hal ini selaras dengan tema peringatan Hari Laut Sedunia atau World Ocean Day 2019 yang jatuh pada 8 Juni, yaitu World and The Ocean dan peringatan Hari Segitiga Karang atau Coral Triangle Day (CT-Day) 2019 yang jatuh pada 9 Juni, yaitu Corals of Change: Paving Way for Gender Equality in Coral Triangle (Kesetaraan Gender di Kawasan Segitiga Karang).

Peringatan CT-Day 2019 ini merupakan perayaan ke-8 setelah ditetapkan pertama kalinya pada Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) Ministerial Meeting ke-4 (MM 4) tahun 2012 di Putrajaya, Malaysia.

Hari Segitiga Karang

Tema kesetaraan gender diangkat dengan tujuan mempromosikan peran penting dan kontribusi kesetaraan gender utamanya dalam menangani isu/resiko yang muncul di Segitiga Karang, seperti polusi sampah plastik di laut dan perubahan iklim;. Selain itu juga mendorong partisipasi yang adil dalam pengambilan keputusan terkait konservasi, perlindungan, dan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat pesisir yang merata.

Baca Juga: Kapal Pengawas Perikanan Tertibkan Empat Rumpon Ilegal Filipina

Di Indonesia, perempuan sudah menjadi bagian penting dalam pemberdayaan masyarakat pesisir dan pelaku perikanan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Brahmantya Satyamurti Poerwadi menyatakan, hal ini telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 28 Tahun 2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemantauan dan Evaluasi Program/Kegiatan Responsif Gender Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Dalam Permen tersebut diatur bahwa pengarusutamaan gender merupakan bagian dari strategi pembangunan yang dilakukan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Dengan demikian, setiap pengintegrasian permasalahan, aspirasi, kebutuhan, dan permasalahan perempuan dan laki-laki harus dimasukkan ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi dari seluruh kebijakan, program, proyek, dan kegiatan di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan,” papar Brahmantya dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (21/6/2019).

Hari Segitiga Karang

Kesuksesan Program Pemberdayaan Gender

Peran aktif perempuan dalam berbagai program dan kegiatan kelautan dan perikanan terbukti mendatangkan berbagai manfaat. Salah satunya mencegah degradasi ekosistem pesisir dan penambangan pasir dan sampah.

Baca Juga: Penyelundupan 96.005 Benih Lobster Menuju Singapura Berhasil Digagalkan

Banda Aware adalah salah satu contoh success story yang diinisiasi oleh dua orang perempuan, Dinah Yunitawati, pelaksana teknis senior di Direktorat Perencanaan Ruang Laut dan Sri Rahayu Mansur, pelaksana teknis untuk satuan kerja di TWP Laut Banda.

Banda Aware merupakan program konservasi laut dan pemberdayaan masyarakat yang didanai oleh Pemerintah Australia dan Kementerian Dalam Negeri Amerika Serikat melalui Coral Triangle Center (CTC). Program ini dikelola bersama dengan Satuan Kerja untuk Laut Banda di area perlindungan laut (marine protected area-MPA) KKP.

Sri Rahayu menjelaskan tentang merajalelanya penambangan pasir pantai dan terumbu Karang di Banda karena masyarakat membutuhkan material bangunan untuk rumah dan infrastruktur.

Lewat program Banda Aware inilah, Dinah dan Sri mengusung kampanye penyadartahuan masyarakat, pengembangan mata pencaharian, dan identifikasi materi alternatif untuk pembangunan. Mereka memilih bambu sebagai bahan bangunan alternatif agar eksploitasi pasir pantai tak terus terjadi.

“Awalnya masyarakat menganggap bangunan dari bambu untuk kalangan kelas ekonomi rendah walaupun dulu dipakai nenek moyang mereka. Namun setelah diperlihatkan desain bangunan bambu yang modern dan dampak negatif dari penambangan pasir tersebut, masyarakat terbuka untuk menggunakan bambu sebagai bahan bangunan alternatif yang lebih murah dan ramah lingkungan,” cerita Sri.

Upaya mereka juga memperoleh dukungan dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang yang selanjutnya terintegrasi dengan aktivitas satuan kerja TWP Banda. Dengan dukungan yang Banda Aware terima, keduanya optimis pada masa depan dan berharap berita mengenai konservasi daerah pesisir dan keahlian yang penduduk desa telah pelajari dapat tersebar ke seluruh pulau di Banda dan manfaat yang didapat.

Selain Banda Aware, terdapat juga salah satu aktivitas daur ulang sampah yang dilakukan wanita nelayan Muara Gembong. Kegiatan ini dapat meningkatkan nilai tambah (edit value) sampah sebagai limbah yang mengganggu menjadi barang yang bernilai ekonomi.

Kegiatan yang dilakukan wanita nelayan Muara Gembong ini juga dinilai telah memberikan edukasi terhadap generasi mendatang mengenai pengelolaan sampah agar lingkungan tetap lestari.

Program dan kegiatan responsif gender lainnya yang telah dilaksanakan di antaranya bimbingan teknis dan bantuan pengembangan diversifikasi usaha bagi perempuan nelayan; bantuan sarana produksi peralatan pembuatan abon ikan bagi perempuan nelayan; praktik pengolahan hasil perikanan bagi perempuan nelayan; Bimtek pengembangan diversifikasi usaha bagi perempuan nelayan; peningkatan akses permodalan khusus untuk perempuan di wilayah pesisir melalui grameen bank; peningkatan wirausahawan muda di kawasan pesisir bagi perempuan nelayan; dan pemberdayaan masyarakat pesisir dan pengembangan usaha (regenerasi nelayan).

Event Perayaan CT-Day di Berbagai Daerah

Pada CT-Day ke-8 ini, KKP melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) mengadakan berbagai event mulai 11 Juni hingga 21 Juni 2019. Kegiatan tersebut tersebar di wilayah kerja Ditjen PRL, di antaranya Bali, Lombok, Makassar, Anambas, Pontianak, Kupang, hingga Pulau Pieh, Sumatera Barat. Event CT-Day ini merupakan hasil kolaboirasi Ditjen PRL dengan stakeholder kelautan dan perikanan diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini