6 Gerai Giant Tutup, Sebelumnya Sudah Ada Lotus hingga Debenhams

Rani Hardjanti, Jurnalis · Rabu 26 Juni 2019 06:43 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 25 320 2070777 6-gerai-giant-tutup-sebelumnya-sudah-ada-lotus-hingga-debenhams-rBhHTF7QBS.jpg Foto: Giant Mampang yang Akan Segera Ditutup (Okezone)

JAKARTA - PT Hero Supermarket Tbk menutup enam gerai ritel modern miliknya, Giant. Untuk menghabiskan stok yang tersisa sekaligus memberikan pelayanan kepada pelanggan setiannya, Giant memberikan diskon banting harga hingga 28 Juli 2019.

Presiden Direktur Hero Supermarket Patrik Lindvall pernah mengatakan, tren bisnis Hero Group dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penurunan pada lini bisnis makanan, yaitu Hero dan Giant. Meski begitu, lini bisnis non-makanan dari IKEA dan Guardian mengalami peningkatan.

 Baca Juga: Jelang Tutup, Giant Diserbu Ibu-Ibu

Pada kuartal I-2019, penjualan Hero Group secara umum naik 0,5% menjadi Rp3,06 triliun. Namun, kerugian yang dialami belum berubah di kisaran Rp4 miliar.

Lindval mengatakan, penjualan makanan yang menyumbang 75% pendapatan Hero Group turun 5 persen menjadi Rp2,34 triliun. Hero Group berupaya melakukan konsolidasi toko agar produktivitas dan profitabilitas meningkat.

"Bisnis makanan mencatat kerugian operasi sebesar Rp64 miliar di biaya-biaya perseroan yang tidak dialokasikan, dibandingkan dengan Rp78 miliar pada periode yang sama tahun lalu," ujarnya Jakarta, Senin 24 Juni 2019.

 Baca Juga: Ini Dugaan Penyebab Giant Tutup 6 Toko di Jabodetabek

Sementara itu di tempat terpisah, Direktur PT Hero Supermarket Tbk Hadrianus Wahyu Trikusumo mengakui, penutupan gerai Giant merupakan respons atas perilaku konsumen yang berubah dengan cepat.

"Ini bukanlah hal yang mudah, tetapi perlu dilakukan guna merespons perilaku konsumen yang berubah dengan cepat," kata Hadrianus.

Senada dengan Hadrianus, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey mengakui adanya penurunan transaksi pangan, baik makanan dan minuman, akibat bergesernya perilaku konsumen. Konsumen lebih memilih kuliner di luar rumah sebagai gaya hidup masyarakat global.

Berikut ini lika-liku bisnis ritel, baik yang bertahan dan telah tutup di Indonesia sebelum Giant.

1. Lotus Departement Store, pada akhir Oktober 2017.

Gerai yang tutup : Thamrin, Cibubur, dan Bekasi

Penjelasan : Lotus mengalami kerugian terus menerus sehingga MAP memutuskan untuk menutupnya. Penutupan gerai Lotus ini dilakukan untuk memoles kinerja keuangan divisi department store PT Mitra Adi Perkasa (MAP) Tbk, induk usaha Lotus.

2. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk pada 28 Agustus 2017

Gerai yang tutup : 8 supermarketnya

Penjelasan : Penutupan bersifat sementara karena perusahaan sedang mendesign ulang toko. Redisain ini berlaku untuk gerai supermarket, bukan gerai yang menjual pakaian. Design ulang ini dilakukan sekaligus memanfaatkan waktu pada saat daya beli sedang lesu.

 

3. Debenhams, pada akhir 2017

Gerai yang tutup: 3 Gerai

Penjelasan: Gerai Debenhams di Senayan City, Kemang Village dan Supermall Karawaci. Penutupan ini diyakini akibat perubahan pola konsumsi masyarakat dari belanja langsung ke belanja online.

 

4. 7-Eleven, pada 30 Juni 2017

Gerai yang tutup : Seluruhnya

Penjelasan : 7 Eleven adalah milik PT Modern Internasional Tbk (MDRN) Penutupan karena besarnya biaya operasional dibandingkan dengan pendapatan mereka sehingga 7-Eleven mengalami kerugian besar. Tercatat hingga Maret 2017, 7-Eleven mencatatkan rugi Rp447,93 miliar. Padahal periode sama tahun sebelumnya untung Rp21,31 miliar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini