nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dampak Perang Iran-AS, Inflasi Tinggi hingga Kebutuhan Pokok Semakin Langka

Koran SINDO, Jurnalis · Sabtu 13 Juli 2019 10:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 13 320 2078367 dampak-perang-iran-as-inflasi-tinggi-hingga-kebutuhan-pokok-semakin-langka-jWUvPNM7pI.jpg Ilustrasi: Foto Koran Sindo

JAKARTA - Keputusan Iran untuk menantang Amerika Serikat (AS) dengan melanjutkan upaya pengayaan uranium justru mendapatkan respons negatif dari rakyatnya. Mereka sangat takut dan khawatir jika krisis nuklir justru akan berlangsung dalam waktu yang lama.

Amerika Serikat (AS) keluar dari pakta kesepakatan nuklir tahun lalu, ketika Presiden Donald Trump ingin memberikan sanksi kepada Iran. Namun, upaya tersebut ternyata tetap gagal memaksa Iran untuk merenegosiasi.

Iran kemarin mengonfirmasi akan tetap melanjutkan upaya pengayaan uranium di atas kesepakatan yang telah disepakati. Trump mengancam para pemimpin Iran agar berhati-hati.

Baca Juga: Merugi, CEO Norwegian Air Mundur

Sejak Mei lalu, dia telah memperketat sanksi dengan tujuan menghalau ekspor minyak Iran sebagai sumber utama keuangan negara tersebut.

”Ya, kehidupan semakin sulit ketika sanksi diberlakukan. Ya, saya pikir program nuklir ini terlalu banyak biayanya dan memberatkan rakyat Iran,” kata Firouzeh, 43, seorang ibu rumah tangga di Kota Balosar, dilansir Reuters .

”Apa pun alasannya, saya juga menentang jika negara saya diserang,” ungkapnya.

Baca Juga: Morgan Stanley Turunkan Peringkat Saham Global

Konfrontasi itu akan berdampak pada dimensi militer. Apalagi, Washington menyalahkan Teheran karena menyerang kapal tanker dan Iran menembak jatuh pesawat nirawak AS.

Iran mengalami kebangkitan setelah sanksi yang dijatuhkan oleh banyak negara dicabut dengan kesepakatan program nuklir. Namun, Iran semakin merana setelah Trump keluar dari pakta kesepakatan nuklir tahun lalu dan diberlakukannya sanksi.

Trump menganggap apa yang dilakukannya bertujuan untuk menekan Iran agar menghentikan aktivitas nuklirnya, menghentikan program misil balistik, dan tidak lagi memberikan dukungan bagi kelompok pemberontak berhaluan Syiah di Timur Tengah.

Harga bahan kebutuhan pokok juga meroket di Iran. Banyak anak muda kehilangan pekerjaan. Pada April lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan ekonomi Iran diperkirakan menurun dan inflasi mencapai 40%.

”Lihatlah Suriah, Irak, dan Yaman. Negara itu menderita bertahun-tahun karena perang. Saya bukan pendukung rezim Iran, tetapi sanksi itu melukai rakyat, bukan pemimpinnya,” kata Firouzeh.

Harga roti, minyak goreng, dan kebutuhan lainnya melonjak tajam. Mata uang Iran mengalami devaluasi hingga 60% dibandingkan riyal dan memaksa banyak pabrik kecil tutup karena kelangkaan bahan baku. ”Kehidupan sangat mahal. Harga selalu merangkak naik setiap hari. Gaji saya hanya USD200 dan saya memiliki dua anak,” kata guru sekolah dasar Ghorbanali Hosseini di Kota Shiraz.

”Saya memiliki tiga pekerjaan. Saya masih berjuang menghidupi keluarga saya. AS seharusnya tidak menyakiti rakyat Iran dengan menjatuhkan sanksi kepada negara kita,” ujarnya.

Pemerintah Iran mengungkapkan, 15% angkatan kerja menjadi pengangguran. Banyak perusahaan merumahkan karyawannya karena permasalahan keuangan. ”Saya ingin hidup normal. Saya sarjana, tetapi saya menganggur,” kata Soroush.

Dia menyalahkan pemimpin Iran karena kebijakan konfrontasi dengan AS. Tapi, para pemimpin Iran justru semakin kuat. Retorika yang dimainkan para pendukung pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei terus digelorakan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini