JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2019 diproyeksikan akan kembali mencatatkan kinerja surplus. Laju neraca perdagangan akan berada di kisaran surplus USD687 juta, meningkat dari Mei 2019 yang surplus USD210 juta.
Baca Juga: Akankah Neraca Perdagangan Juni 2019 Kembali Surplus?
"Peningkatan surplus bulan Juni didorong oleh laju pertumbuhan bulanan impor yang lebih lambat dibandingkan ekspor," ujar Ekonom Bank Permata Josua Pardede kepada Okezone, Senin (15/7/2019).
Dia memperkirakan, laju ekspor bulan Juni tercatat sebesar -3,52% (year on year/yoy), dipengaruhi oleh penurunan volume karena masih lemahnya aktivitas manufaktur mitra dagang Indonesia dan harga komoditas ekspor seperti minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).
Baca Juga: Seimbangkan Neraca Perdagangan, Kemendag Ajak Pelaku Usaha Sasar Pasar China
Sementara itu, laju impor diperkirakan tercatat 5% yoy. Impor diperkirakan akan tertekan oleh volume seiring dengan melambatnya aktivitas manufaktur domestik.
"Namun secara umum, laju pertumbuhan bulanan baik ekspor dan impor cenderung melambat signifikan dikarenakan libur lebaran pada awal bulan Juni," kata dia.
Sekedar informasi, neraca perdagangan pada Mei 2019 yang surplus USD210 juta, merupakan kinerja yang membaik dari April 2019 yang mengalami defisit sangat dalam sebesar USD2,4 miliar.
Perbaikan kinerja ini didorong realisasi nilai impor sebesar USD14,53 miliar atau turun 5,62% dari bulan sebelumnya. Sedangkan ekspor tercatat sebesar USD14,74 miliar atau tumbuh 12,42% dari bulan April 2019.
Adapun neraca perdagangan pada komoditas non migas tercatat surplus USD1,18 miliar. Sedangkan, migas mengalami defisit sebesar USD977,8 juta.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.