nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Proyek Ini Bikin Krakatau Steel Rugi hingga Rp10 Triliun

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 23 Juli 2019 13:24 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 23 320 2082481 proyek-ini-bikin-krakatau-steel-rugi-hingga-rp10-triliun-kHdyi8LZMe.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Proyek blast furnace PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang dimulai sejak 2011 disebut sebagai proyek yang serba salah. Sebab bagaimanapun, proyek ini akan merugikan perusahaan.

Komisaris Independen Krakatau Steel Maningkas mengatakan, jika dilanjutkan proyek ini akan mengalami kerugian sekitar Rp1,3 triliun setiap tahunnya. Sedangkan jika dihentikan, maka perseroan akan kehilangan uang sekitar Rp10 triliun.

 Baca Juga: Komisaris Independen Krakatau Steel Ajukan Pengunduran Diri, Kenapa?

Pasalnya, sejak dimulai pada 2011, perseroan sudah mengeluarkan uang sekitar USD714 juta atau setara Rp10 triliun. Angka ini mengalami pembengkakan Rp3 triliun dari rencana semula yang hanya Rp7 triliun.

“Proyek ini maju kena mundur kena diterusin Rp1,3 triliun ruginya tiap tahun, enggak diterusin Rp10 triliun hilang,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Menurut Roy, permasalahan tersebut sebenarnya sudah disampaikan oleh Dewan Komisaris kepada Kementerian BUMN berulang-ulang. Adapun beberapa poin yang diingatkan adalah adanya keterlambatan penyelesaian project blast furnace yang sudah mencapai 72 bulan.

 Baca Juga: Bisnis Krakatau Steel Tak Sekuat Baja, Restrukturisasi Jadi Pilihan

Namun usulan ini seperti diabaikan. Mereka menyebut akan sangat sayang jika tidak dilanjutkan sebab, perseroan sudah membeli bahan baku yang banyak untuk operasi proyek ini.

“Mereka (Kementerian BUMNN) bilang 'nasi sudah menjadi bubur', yaudah sekalian aja dibikin jadi bubur ayam,” katanya.

Kemudian, Dewan Komisaris Krakatau Steel juga menyampaikan jika Harga Pokok Produksi (HPP) slab yang dihasilkan project blast furnace ini lebih mahal USD82 juta per jika dibandingkan harga pasar. Jika dilanjutkan untuk diproduksi, 1,1 juta ton per tahun, maka potensi kerugian Krakatau Steel sektiar Rp1,3 triliun per tahun.

“Sejak pertama saya hitung memang HPPnya enggak masuk USD82 per ton kalo itu berproduksi. Sekarang dengan situasi ini dengan disampling opinion saya pemegang saham enggak perlu bereaksi seperti ini,” katanya.

Selain itu, Dewan Komisaris juga menyampaikan usulan jika proyek ini merupakan proyek yang dipaksakan beroperasinya hanya untuk dua bulan kemudian akan dimatikan dengan berbagai macam alasan. Dewan Komisaris juga sudah meminta berkali-kali agar dilakukan audit bisnis maupun audit teknologi untuk mengetahui kehandalannya, keamanannya dan efisien project blast furnace ini.

Di sisi lain, dirinya juga mempertanyakan tidak adanya kepastian siapa yang akan bertanggung jawa terhadap proyek ini. Baik itu tanggung jawab secara teknis, maupun kerugian keuangan, yang sayangnya pernyataan tanggung jawab hanya dibuat oleh level manager dari kontraktor.

“Saya enggak bisa membayangkan kerusakan tehadap Krakatau Steel ini sebesar apa dan enggak ada yang tanggung jawab,” ucapnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini