Indonesia Masuk Peringkat ke-10 Pasar IPO Global

Rabu 24 Juli 2019 13:08 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 24 320 2082951 indonesia-masuk-peringkat-ke-10-pasar-ipo-global-ADc23jctGV.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Kerja keras PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama lembaga SRO pasar modal serta Otoritas Jas Keuangan (OJK) dalam meningkatkan perusahaan go public menuai banyak hasil.

Berdasarkan hasil riset “Global IPO Trends Report: Q2 2019” di tahun 2018 menyebutkan Bursa Efek Indonesia menduduki peringkat ke-10 di total keseluruhan jumlah penawaran umum perdana saham global.

Jumlah perusahaan yang melantai di BEI pada tahun 2019 mencapai 55 atau 4% (1384 emiten baru) dari keseluruhan IPO global. “Go-public bukan hal yang mudah. Perusahaan yang berkeinginan untuk melakukan penawaran umum perdana perlu mempersiapkan diri lebih awal dan menyeluruh sehingga mereka dapat menangkap jendela opportunity yang tepat ketika dibuka,” kata Partner Transaction Advisory Services Iwan Margono dikutip Harian Neraca, Jakarta, Rabu (24/7/2019).

 Baca Juga: IPO, 2 Anak Usaha Citranusa Indonesia Incar Rp1 Triliun

Disampaikannya, setiap tahapan go public harus dilalui dengan baik dan disiapkan dengan matang agar mendapatkan hasil yang maksimal. Oleh karena itu, kata Iwan, disinilah edukasi kepada calon emiten menjadi fundamental.

Oleh sebab itulah EY Indonesia mengadakan kegiatan 2-Days EY Masterclass “Funding Growth Through IPO sejak 22 Juli dan hari ini 23 Juli 2019”. Masterclass ini merupakan bentuk kontribusi EY dalam mendukung pasar modal Indonesia terutama di hal penambahan jumlah emiten.

 Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen

Para peserta Masterclass kali ini adalah perwakilan direksi dan komisaris perusahaan-perusahaan dari berbagai sektor di Indonesia yang memiliki tujuan yang sama di waktu jangka menengah, yaitu melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering dan mengakses dana publik di jangka panjang dengan menjadi perusahaan terbuka.

 Baca Juga: IPO, Kencana Energi Incar Dana Rp410 Miliar

Berbagai profesi pendukung yang sebagian hadir di sini antara lain investment banks, firma hukum, dan praktisi lain yang familiar dengan proses IPO juga ikut memberikan sesi-sesi dan berbagi pandangan yang praktikal namun juga strategis terkait persiapan, pelaksanaan, dan aktivitas setelah IPO.

Iwan menambahkan, EY Indonesia dengan global expertise serta local knowledge yang luas, berkomitmen kuat untuk turut serta terus mendukung pengembangan pasar modal dan meningkatkan jumlah emiten di Indonesia.

EY juga berkomitmen untuk terus melakukan kegiatan serupa di masa-masa mendatang, tentu saja dengan terus bekerjasama dengan pihak Bursa Efek Indonesia dan institusi terkait lainnya.

Di kesempatan yang sama, EY Indonesia juga menyampaikan apresiasinya atas kerja Bursa Efek Indonesia di 2018 dalam mensosialisasikan serta mengedukasi perusahaan untuk go-public melalui beragam program yang telah berhasil mencatatkan hasil yang membanggakan bagi kemajuan pasar modal Indonesia.

Tercatat pada tahun 2018, jumlah emiten yang melantai di bursa adalah sebanyak 55 emiten. Sementara itu hingga pertengahan tahun ini, jumlah emiten baru adalah 32 perusahaan.

Selain itu, EY secara rutin mengeluarkan hasil riset “Global IPO Trends Report” yang dirilis tiap kuartal. Global IPO Trends ini memberikan insights, tren pasar, dan outlook untuk wilayah Amerika, Asia Pasifik, Jepang, dan EMEIA. Ringo Choi, EY Asia-Pacific IPO Leader dalam laporan tersebut menjelaskan mengenai kondisi IPO di wilayah Asia Pacific.

Dia mengatakan, masalah perdagangan yang sedang berlangsung antara AS dan Tiongkok yang terus memiliki efek pada sentimen investor di seluruh Asia-Pasifik, prospek penurunan ekonomi membuat banyak perusahaan mempercepat rencana IPO mereka.

“Melihat para calon emiten yang berlomba untuk melantai di bursa di tengah kondisi ekonomi serta rata-rata kinerja pasca-IPO tetap positif, kami berharap tingkat aktivitas IPO Asia-Pasifik akan meningkat pada paruh kedua tahun 2019,” jelasnya.

Iwan menambahkan, EY Indonesia dengan global expertise serta local knowledge yang luas, berkomitmen kuat untuk turut serta terus mendukung pengembangan pasar modal dan meningkatkan jumlah emiten di Indonesia.

EY juga berkomitmen untuk terus melakukan kegiatan serupa di masa-masa mendatang, tentu saja dengan terus bekerjasama dengan pihak Bursa Efek Indonesia dan institusi terkait lainnya.

Di kesempatan yang sama, EY Indonesia juga menyampaikan apresiasinya atas kerja Bursa Efek Indonesia di 2018 dalam mensosialisasikan serta mengedukasi perusahaan untuk go-public melalui beragam program yang telah berhasil mencatatkan hasil yang membanggakan bagi kemajuan pasar modal Indonesia.

Tercatat pada tahun 2018, jumlah emiten yang melantai di bursa adalah sebanyak 55 emiten. Sementara itu hingga pertengahan tahun ini, jumlah emiten baru adalah 32 perusahaan.

Selain itu, EY secara rutin mengeluarkan hasil riset “Global IPO Trends Report” yang dirilis tiap kuartal. Global IPO Trends ini memberikan insights, tren pasar, dan outlook untuk wilayah Amerika, Asia Pasifik, Jepang, dan EMEIA. Ringo Choi, EY Asia-Pacific IPO Leader dalam laporan tersebut menjelaskan mengenai kondisi IPO di wilayah Asia Pacific.

Dia mengatakan, masalah perdagangan yang sedang berlangsung antara AS dan Tiongkok yang terus memiliki efek pada sentimen investor di seluruh Asia-Pasifik, prospek penurunan ekonomi membuat banyak perusahaan mempercepat rencana IPO mereka.

“Melihat para calon emiten yang berlomba untuk melantai di bursa di tengah kondisi ekonomi serta rata-rata kinerja pasca-IPO tetap positif, kami berharap tingkat aktivitas IPO Asia-Pasifik akan meningkat pada paruh kedua tahun 2019,” jelasnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini