nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Saldo Nasabah Mandiri Berubah, Ombudsman Pastikan Tak Ada Hacker

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 29 Juli 2019 13:44 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 29 320 2084937 saldo-nasabah-mandiri-berubah-ombudsman-pastikan-tak-ada-hacker-nK2DpjLqOg.jpg Penipuan (Shutterstock)

JAKARTA - Ombudsman Republik Indonesia (ORI) meminta penjelasan kepada Bank Mandiri terkait erornya saldo nasabah yang terjadi beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan itu, Ombudsman juga mengundang pihak regulator yakni dari Bank Indonesia dan juga dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Anggota Ombudsman Dadan S Suharmajiya mengatakan diundangnya pihak Bank Mandiri hingga regulator adalah untuk meminta keterangan terkait berubahnya saldo nasabah Mandiri yang terjadi beberapa waktu lalu. Apalagi peristiwa tersebut cukup viral dan menggemparkan publik.

 Baca juga: 2.670 Rekening Nasabah Bank Mandiri Diblokir, Apa Penyebabnya?

“Hari ini kita rapat klarifikasi terkait yang terjadi di Bank Mandiri kemarin,” ujarnya dalam acara konferensi per di Kantor ORI, Jakarta, Senin (29/7/2019).

 Error mandiri

Dari hasil rapat tersebut, ada beberapa kesimpulan yang dapat disimpulkan oleh ORI. Pertama adalah, pada saat kejadian Otoritas Jasa Keuangan sudah sesuai tugasnya adalah dengan melakukan pengawasan dari sisi makro prudentialnya.

 Baca juga: Saldo Nasabah Eror, Saham Bank Mandiri Merosot 100 Poin

Selain itu, dari keterangan OJK, sistem IT yang dimiliki oleh Bank Mandiri juga sudah sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK). Hanya memang diperlukan update sistem teknologi informasi yang dilakukan secara berkala.

“Bank mandiri mewakili perbankan nasional standar IT memenuhi standar sesuai POJK. Yang terjadi sedikit kemungkinan erornya sistem dari sisi IT sesuatu yang harus diupdate setiap saat,” jelasnya.

 Baca juga: Heboh Saldo Berubah Drastis, OJK Akan Panggil Bank Mandiri

Kemudian dari rapat tersebut juga disampaikan mengenai sistem IT termasuk juga bantahan mengenai adanya serangan hacker. Dari hasil pemaparan oleh Bank Mandiri, perseroan memastikan hingga saat ini tidak ada hacker yang berhasil menembus sistem perbankan nasional.

“Apa yang terjadi dengan bank mandiri tidak ada problem cyber security. Selama ini mampu di tangkal tidak ada yang menembus sistem cyber kita. Terjadi bank mandiri adalah kehandalan IT yang perlu di update,” jelasnya.

Sementara itu, dari hasil laporan tadi juga diketahui jika Bank Indonesia sudah melakukan fungsinya sebagai regulator. Pada saat kejadian, BI langsung melakukan investigasi mengenai kemungkinan dampaknya kepada makro ekonomi.

“BI selaku pengawasan perbankan langsung melakikan juga tugasnya untuk melakukan pengawasan temuannya yang disampaikan ke kami merasa khawatir atas dampaknya. Tapi setelah melakukan investigasi tidak ada ancaman makro ekonomi. Sarannya di waktu akan datang harus ditingkatkan kehandalannya,” jelasnya.

Dari poin poin tersebut, Ombudsman memutuskan untuk menerima penjelasan dari pihak Bank Mandiri juga regulator. Hanya saja ke depannya diperlukan peningkatan sistem IT agar nasabah perbankan Indonesia aman.

“Kami menerima jawaban dari BI, OJK dan Mandiri. Kita berkeinginan perbankan di Indonesia selain aman juga handal dari waktu ke waktu bisa update,” tegas Dadan.

Tragedi PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mengalami eror dan berbuntut perubahan saldo belum lama ini berbuntut panjang. Bank pelat merah ini harus merogoh kocek untuk mengobati rasa sakit hati para nasabah.

Obat sakit hati yang dimaksud berupa pemberian kartu uang elektronik (e-money) kepada 3.300 nasabahnya.

Managing Director Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Heri Gunardi mengatakan, pemberian e-money tersebut sebagai langkah membina hubungan baik antara perseroan dengan nasabahnya. Sebab, dirinya menyadari perubahan saldo itu cukup merugikan nasabah dari sisi non materi.

“Kemudian sebagai ganti deg-degan nasabah (karena saldo di rekeningnya berubah), kami beri e-money buat bina hubungan baik dengan nasabah. Kita juga beri voucher online untuk obat sakit hati nasabah,” ujarnya saat ditemui di Kantor Pusat Ombudsman, Jakarta, Senin (29/7/2019).

Menurut Heri, pemberian nasabah tersebut hanya diberikan kepada nasabah yang melakukan komplain. Masing-masing dari kartu uang elektronik yang diberikan kepada nasabah yang komplain adalah senilai Rp100.000 per orang.

Berdasarkan data dari Bank Mandiri,ada 1,5 juta nasabah yang terkena dampak dari erornya sistem IT tersebut. Dari jumlah tersebut 3.300 melakukan komplain kepada Bank baik itu secara langsung maupun online.

Dari jumlah 3.300 nasabah, 2.600 di antaranya merupakan nasabah yang mengalami kelebihan saldo di rekeningnya. Sementara sisanya merupakan nasabah yang rekeningnya berkurang.

Jika ditotal, artinya, Bank Mandiri mengeluarkan Rp330 juta kartu uang elektronik untuk nasabah yang komplain. Angka tersebut didapatkan dari Rp100.000 dikalikan dengan jumlah nasabah yang komplain sebanyak 3.300 orang

“Masing-masing kita beri kartu e-Money Rp 100.000,” ucapnya.

Selain pemberian e-money, Bank Mandiri juga memberikan voucher elektronik kepada para nasabahnya. Hanya saja dirinya tidak menyebutkan berapa jumlah voucher yang diberikan dan bagaimana bentuknya.

Selain pemberian e-Money dan voucher elektronik, Bank Mandiri juga memberikan penjelasan kepada nasabah yang terdampak. Heri mengklaim, setelah mendapat penjelasan dari pihaknya, para nasabah pun akhirnya dapat memakluminya.

“Sebagai pelayan publik kalau ada kekurangan kita terus perbaiki. Kami mohon maaf atas ketidaknyaman berapa jam itu. Semoga ke depan bisa layani lebih baik,” jelasnya

Sebagai informasi, beberapa waktu lalu, karena adanya gangguan teknis pada sistem teknologi informasinya (IT). Akibatnya, saldo di rekening para nasabahnya berubah bahkan ada yang berubah menjadi Rp0.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini