nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peso Argentina Anjlok 15%, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Taufik Fajar, Jurnalis · Selasa 13 Agustus 2019 12:35 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 13 20 2091267 peso-argentina-anjlok-15-ini-penjelasan-sri-mulyani-e2DnIv404w.jpg Peso (Reuters)

JAKARTA - Nilai tukar peso Argentina kembali bergejolak. Di mana mata uang Argentina anjlok 15,3% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal itu dikarenakan hasil mengejutkan dalam Pemilu Argentina.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa pelemahan mata uang peso terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terjadi karena adanya respons market atas kekalahan calon presiden petahana pada Pemilu 2019 Argentina.

 Baca juga: Indonesia-Argentina Tingkatkan Kerja Sama Perdagangan

"Jadi, calon presiden petahana yakni Presiden Mauricio Macri mendapatkan suara yang lebih rendah dibandingkan lawannya Alberto Fernandez. Itu kan berhubungan dengan ekspektasi dari market mengenai arah policy ke depan. Sehingga peso mengalami koreksi yang sangat dalam," ujar dia di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Namun, lanjut dia, persoalan melemahnya nilai tukar peso menjadi pekerjaan rumah Argentina. "Maka itu, kami harapkan tidak memberikan dampak terhadap negara lain seperti Indonesia," jelas dia.

 Baca juga: Alami Krisis, Argentina Dapat Lebih Banyak Dana Talangan IMF

Selain itu, tutur dia, pihaknya juga mewaspadai mengenai gejolak politik di beberapa negara, salah satunya di Hong Kong. Sebab gejolak politik ini akan memunculkan dinamika pasar keuangan.

"Kita tahu, di Hong Kong ada masalah politik setempat. Jadi kita berharap kalau ini masalahnya politik setempat yang kemudian memunculkan dinamika market. Ya itu akan tercontain atau terbatas hanya ke pada negara tersebut," kata dia

Dia menuturkan, dinamika politik di Hongkong ini akan mempengaruhi sektor keuangan di beberapa negara. Dampak ini pun bisa membuat pasar keuangan di Indonesia bergejolak

"Kalau contegous itu kan muncul kalau ada suatu semiliratiy, kesamaan apakah dari sisi kerapuhan ekonominya apakah dari exposure terhadap nilai tukar yang kemudian berhubungan dengan jumlah utang luar negeri yang besar. Dan sebabkan kerapuhan pada sektor keuangannya," ungkap dia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini