nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kamu Pejuang Cicilan KPR dan KKB? Ini Cara Bijak Mengelola Keuangan

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Sabtu 24 Agustus 2019 06:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 23 470 2095734 kamu-pejuang-cicilan-kpr-dan-kkb-ini-cara-bijak-mengelola-keuangan-5H6SUWu9BY.jpg Membeli Rumah (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kebutuhan hidup terus meningkat, diiringi dengan peningkatan biaya yang perlu ditanggung. Sering kali kondisi ini membuat banyak pihak terlilit utang cicilan.

Cicilan dari tagihan kartu kredit, kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor, atau berbagai jenis kredit lainnya. Bisa-bisa pendapatan tiap bulan lebih banyak untuk porsi membayar utang, ketimbang untuk asuransi apalagi investasi.

 Baca juga: Membeli Rumah atau Mobil yang Harus Didahulukan?

Padahal, Perencana Keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto menyatakan, porsi utang maksimal sebesar 40% dari pendapatan bagi keluarga yang sudah memiliki rumah. Atau maksimal 30% untuk keluarga yang tidak memiliki rumah.

 Rumah

"Jadi harus ada aturannya," kata dia kepada Okezone.

 Baca juga: Mungkin Enggak Sih Ambil Cicilan Rumah dan Mobil Sekaligus?

Sehingga, jika porsi utang sudah melampaui batas itu, bahkan 60% pendapatan untuk kebutuhan bayar utang saja, maka perlu restrukturisasi keuangan. Hal ini guna memperbaiki keuangan untuk bisa berkelanjutan memenuhi berbagai kebutuhan lainnya di kemudian hari.

"Restrukturisasi, pergi ke bank untuk memperpanjang waktu membayar cicilan. Memang jadinya lebih lama untuk bisa lunas, tapi nilainya jadi tidak memberatkan lagi di setiap bulannya," jelas dia.

 Baca juga: Jangan Hanya Tertarik Promo, Kelemahan Kartu Kredit Perlu Dipertimbangkan

Sebab, menurutnya, beban untuk membayar utang tidak boleh terlalu berat. Kebutuhan utama lainnya yang juga perlu dipenuhi adalah investasi, asuransi, dan tentu konsumsi guna kebutuhan sehari-hari anggota keluarga.

Utang yang terlalu besar pada akhirnya akan berimbas pada investasi dan asuransi. Hal ini membuat tak adanya pencadangan dana untuk kebutuhan masa depan.

"Jadi enggak boleh terlalu memberatkan porsinya utang, itu mempengaruhi kebutuhan masa depan," katanya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini