nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta Menarik Sofyan Djalil, 6 Kali Bolak-balik Jadi Menteri

Adhyasta Dirgantara, Jurnalis · Senin 28 Oktober 2019 09:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 26 320 2122047 fakta-menarik-sofyan-djalil-6-kali-bolak-balik-jadi-menteri-H9xzCMzucx.jpg Sofyan Djalil (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Sofyan Djalil resmi dilantik menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) di Kabinet Indonesia Maju. Di mana dirinya kembali lagi menjadi menteri di Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Sebelumnya, dia juga menjadi salah satu sosok yang datang ke Istana untuk memenuhi panggilan Presiden Jokowi. Kembali dipanggilnya Sofyan Djalil bukan tanpa alasan, setumpuk prestasi dan pengalaman yang mumpuni dimiliki olehnya. Bahkan, sepak terjangnya dalam dunia pemerintahan telah lama dilakukannya.

 Baca Juga: Duet Bareng Sofyan Djalil, Wamen ATR: Mohon Diajarin Pak

Tidak hanya sebagai Menteri ATR/BPN, Sofyan Djalil juga telah melanglang buana dalam ranah kementerian. Seperti selama menjalani masa jabatannya di Bappenas, dia telah memperkenalkan sistem perencanaan melalui pendekatan yang bersifat Holistik, Integratif, Tematik dan Spatial (HITS). Hal itu merupakan koreksi dari pendekatan perencanaan yang selama ini yang lebih bersifat pendekatan sektoral.

Dengan demikian, maka Sofyan Djalil merupakan salah satu tokoh yang jadi langganan untuk dijadikan menteri. Mulai dari Menteri Komunikasi dan Informasi hingga Menteri ATR/BPN, berikut fakta-fakta menarik yang berhasil Okezone rangkum, Senin (28/10/2019).

1. Sempat Jadi Kepercayaan Habibie

Sebenarnya, sepak terjang Sofyan Djalil dalam dunia pemerintahan telah lama dilakukannya. Lihat saja, pada periode Pemerintahan Presiden Habibie, dia bahkan dipercaya menjabat sebagai Asisten Menteri Negara BUMN (1998-2000).

2. 6 Kali Bolak-balik Jadi Menteri

Di ranah kementerian, dirinya sempat menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid I pada Oktober 2004. Usai menjabat selama 3 tahun, dirinya pun ditunjuk menjadi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada Oktober 2009.

 Baca Juga: Surya Tjandra Jadi Wamen ATR, Sofyan Djalil: Kalau Tidak Bagus, Terlalu

Berganti pemerintahan ke Jokowi-Jusuf Kalla, Dirinya mendapat kepercayaan menjadi Menteri Koordinator bidang Ekonomi di Kabinet Kerja. Belum genap satu tahun, perombakan kabinet pun membuat dirinya menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional hingga Juli 2016.

Perombakan kedua Kabinet Kerja Jokowi-JK, dirinya kembali dipindahtugaskan ke Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesia mulai 27 Juli 2016. Hingga saat ini, dirinya kembali diberi kepercayaan untuk meneruskan jabatan Menteri ATR di Pemerintahan Jokowi-Maruf Amin pada Kabinet Indonesia Maju.

 Pernah Menjadi Menteri di Era SBY, Sofyan Djalil Kembali Dipanggil Istana

3. Kekayaan Rp73 miliar

Rupanya, kekayaan Sofyan Djalil mencapai Rp73 miliar. Tercatat, Dia memiliki harta berupa tanah dan bangunan yang tersebar di Depok, Jakarta, dan Bogor dengan total nilai Rp28.305.232.000. Lalu, Sofyan juga memiliki 3 alat transportasi berupa mobil senilair Rp630.000.000.

Tidak berhenti sampai situ, Dia memiliki kekayaan dalam klasifikasi harta bergerak lainnya sebanyak Rp684.000.000. Kemudian, untuk surat berharga Sofyan memiliki Rp20.135.602.084 di dalamnya. Lalu, ada juga kas dan setara kas yang tidak kalah fantastisnya sebesar Rp22.621.359.100. Yang terakhir ada harta lainnya sebanyak Rp1.465.417.626.

Meski memiliki banyak harta, Sofyan juga tidak lepas dari utang. Tercatat, ada Rp686.077.885 utang yang harus dia lunasi.

4. Menyambut Positif Wamen ATR/BPN

Sofyan Djalil menyambut positif dilantiknya Surya Tjandra sebagai Wakil Menterinya. Dengan dilantiknya Surya Tjandra, dirinya meyakini kinerja di sektor agraria akan lebih baik lagi.

Bukan tanpa alasan Sofyan mengumbar janji tersebut. Sosok ini merupakan lulusan dari almamater yang sama yakni dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).

Menurutnya dengan duet FH UI, permasalahan terkait agraria bisa terselesaikan. Justru, jika tidak terselesaikan dirinya akan sangat malu kepada publik.

“Saya lihat semua sama dengan CV saya. Kami punya kesamaan almamater di UI cuma saya lebih senior. Jadi kalau dua alumni (UI) ini enggak bagus terlalu,” ujarnya saat ditemui di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta.

 Pernah Menjadi Menteri di Era SBY, Sofyan Djalil Kembali Dipanggil Istana

5. Diminta untuk Ajarkan Wamen ATR

Saat ditemui di kompleks istana, Surya Tjandra mengaku bahagia bisa membantu Presiden Joko Widodo untuk bersama-sama dengan Sofyan Djalil menyelesaikan masalah agraria. Apalagi, Sofyan merupakan salah satu menteri favorit dan terbaik dari Presiden Jokowi dan minta diajarin olehnya.

“Pertama saya senang sekali membantu Pak Jokowi dan dipartnerkan dengan Pak Sofyan. Pak Sofyan ini dari dulu favorit saya dari dulu. Mohon diajarin juga,” ujarnya saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

6. Program 5 Tahun

Saat ditanya mengenai program dalam jangka lima tahun ke depan, Sofyan membeberkan beberapa program yang segera diluncurkan. Misalnnya mendigitalisai dalam pengurusan sertifikat.

Dalam layanan elektronik nantinya akan mencakup pada empat hal. Pertama, layanan Elektronik Hak Tanggungan/HT-el yang meliputi Pendaftaran Hak Tanggungan, roya, cessie, subrogasi.

Kedua adalah Layanan Elektronik Informasi Pertanahan untuk Zona Nilai Tanah (ZNT). Ketiga adalah Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) dan Pengecekan. Dan yang terakhir ini adalah modernisasi layanan permohonan keputusan pemberian hak atas tanah.

"Programnya sudah ada di roadmap kita ingin laksanakan seluruh tanah bisa terdaftar semua. Kemudian mendigitalisai mudah-mudahan 2025 semua layanan BPN sudah pakai digital,” jelas Sofyan.

7. Lulusan UI hingga Luar Negeri

Pria kelahiran 23 September 1953 ini memperoleh gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia pada tahun 1984. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Master of Arts in Law and Diplomacy (MAL) pada 1991 dan Master of Arts in Public Policy dari Universitas yang sama di tahun 1989.

Beberapa tahun kemudian, ia berhasil memperoleh gelar Ph.D dalam bidang International Financial and Capital Market Law and Policy dari the Fletcher School of Law and Diplomacy Tufts University.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini