Sawit RI Dibarter Beras dan Gula India, Ini Faktanya

Hairunnisa, Jurnalis · Senin 11 November 2019 08:40 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 10 320 2128038 sawit-ri-dibarter-beras-dan-gula-india-ini-faktanya-NoSGvejR10.jpg Beras (Foto: Dok Kementan)

JAKARTA - Indonesia dan India sepakat memperkuat hubungan kerjasama ekonomi. India siap memberikan treatment yang fair terhadap sawit Indonesia. Namun, di sisi lain, India mengharapkan Indonesia membeli beras dan gula dalam bentuk raw sugar milik mereka.

“Memang saat sekarang tarif kelapa sawit, baik itu untuk CPO maupun RBD sudah sama. Semula ada perbedaan 5%, namun sesuai dengan permintaan Bapak Presiden, Perdana Menteri Narendra Modi menerima itu sehingga tarif CPO itu sama, Refined Bio Blended itu sama, RBD itu sama,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto seperti dilansir setkab, Jakarta.

 Baca Juga: Bertemu Jokowi, PM India Janji Beri Treatment yang Fair untuk Sawit Indonesia

Tercatat bahwa sekarang 40% CPO, 50% RBO akan segera dikirimkan per akhir bulan Desember menjadi 37,5% dan 45%, dan ini berlaku untuk Indonesia dan Malaysia, sehingga terjadi pemerataan antara Indonesia dan Malaysia.

Berikut beberapa fakta menariknya seperti dirangkum Okezone, Jakarta, Senin (11/11/2019).

1. PM India Janji Beri Treatment yang Fair untuk Sawit Indonesia

Presiden Jokowi dan PM India Narendra Modi menyampaikan mengenai upaya kerja sama ekonomi karena kerja sama politik kedua negara bagus, maka ini harus direfleksikan dalam kerja sama ekonomi.

“Presiden membahas mengenai masalah sawit. Intinya adalah PM Modi siap memberikan treatment yang fair terhadap sawit Indonesia,” terang Menlu.

 Baca Juga: Setuju soal Sawit, Indonesia Diminta Beli Beras dan Gula India

2. Setuju soal Sawit, Indonesia Diminta Beli Beras dan Gula India

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui jika India mengharapkan Indonesia bisa membeli beras dan gula dalam bentuk raw sugar dari India. Menurut Airlangga, dan pemerintah sudah mengatakan diambil secara bertahap.

“Nanti bisa ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan ke depan dan memang per hari ini trade kita dengan India positif. Kita positif USD8 miliar, tertinggi di 2017 sebesar USD10 miliar dan komoditas utamanya adalah batu bara dan kelapa sawit,” terang Airlangga.

 Sawit

3. India Adalah Partner yang Penting

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, bahwa India itu penting terkait dengan RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership), sebagaimana pemerintah RRT juga menyatakan pentingnya India bagi finalisasi RCEP.

“Memang kalau kita lihat, RCEP adalah blok terbesar melebihi Uni Eropa (EU). EU itu PDB-nya kira-kira Rp18 triliun, kalau PDB RCEP itu USD27 triliun, sedangkan TPP itu USD11 triliun. Kalau kita lihat trade-nya RCEP itu US$11,5 triliun, EU USD12,5 dan TPP USD5,8 triliun. Kalau kita bicara penduduk, RCEP ini 3,6 miliar jadi tentu jauh lebih besar daripada EU dan PBB. Oleh karena itu, tadi hampir seluruh pemimpin itu mendorong agar perundingan ini bisa difinalisasi,” kata Airlangga.

4. Target Perdagangan

Duta Besar India Pradeep Kumar Rawat menyatakan, melalui penguatan kerjasama ini, maka target untuk mencapai perdagangan antara Indonesia-India sebesar USD50 miliar di 2025 akan tercapai. Target itu ditetapkan Presiden Joko Widodo saat melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India Narendra Modi pada Juni 2019.

"Sehingga perlu juga mendesak perusahaan-perusahaan dari kedua negara untuk mengeksplorasi cara-cara diversifikasi perdagangan melalui barang-barang terfokus seperti daging kerbau, gula, dan beras," ujarnya.

 Sawit

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini