nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Setuju soal Sawit, Indonesia Diminta Beli Beras dan Gula India

Maghfira Nursyabila, Jurnalis · Senin 04 November 2019 11:42 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 04 320 2125416 setuju-soal-sawit-indonesia-diminta-beli-beras-dan-gula-india-mZbQ1qbk6N.jpg India soal Sawit (Foto: Setkab)

JAKARTA - Pemerintah India menyetujui persyaratan yang diminta Indonesia terkait ekspor kepala sawit agar tidak ada perbedaan dengan Malaysia, namun India juga meminta Indonesia untuk bisa membeli beras dan gula dalam bentuk raw sugar dari mereka.

“Memang saat sekarang tarif kelapa sawit, baik itu untuk CPO maupun RBD sudah sama. Semula ada perbedaan 5 persen, namun sesuai dengan permintaan Bapak Presiden, Perdana Menteri Narendra Modi menerima itu sehingga tarif CPO itu sama, Refined Bio Blended itu sama, RBD itu sama,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto seperti dilansir setkab, Jakarta, Senin (4/11/2019).

 Baca Juga: Sri Mulyani ke Anak SD 'Uang Negara Itu dari Mana Ya?', Jawabannya Mengejutkan

Menurut Airlangga, yang sekarang 40% CPO, 50% RBO akan dikirimkan per akhir bulan Desember menjadi 37,5% dan 45%, dan ini berlaku untuk Indonesia dan Malaysia, sehingga tidak ada perbedaan antara Indonesia dan Malaysia.

“Dengan demikian, tentu ini menjadi bagian dari kerja sama,” ujarnya.

 Baca Juga: Bertemu Jokowi, PM India Janji Beri Treatment yang Fair untuk Sawit Indonesia

Namun diakui Menko Perekonomian jika India mengharapkan Indonesia bisa membeli beras dan gula dalam bentuk raw sugar dari India. Menurut Airlangga, dan pemerintah sudah mengatakan diambil secara bertahap.

“Nanti bisa ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan ke depan dan memang per hari ini trade kita dengan India positif. Kita positif USD8 miliar, tertinggi di 2017 sebesar USD10 miliar dan komoditas utamanya adalah batu bara dan kelapa sawit,” terang Airlangga.

 Sawit

Dalam kesempatan itu Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, bahwa India itu penting terkait dengan RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership), sebagaimana pemerintah RRT juga menyatakan pentingnya India bagi finalisasi RCEP.

“Memang kalau kita lihat, RCEP adalah blok terbesar melebihi Uni Eropa (EU). EU itu PDB-nya kira-kira Rp18 triliun, kalau PDB RCEP itu USD27 triliun, sedangkan TPP itu USD11 triliun. Kalau kita lihat trade-nya RCEP itu US$11,5 triliun, EU USD12,5 dan TPP USD5,8 triliun. Kalau kita bicara penduduk, RCEP ini 3,6 miliar jadi tentu jauh lebih besar daripada EU dan PBB. Oleh karena itu, tadi hampir seluruh pemimpin itu mendorong agar perundingan ini bisa difinalisasi,” kata Airlangga.

Sementara Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengemukakan, memang India berkeinginan untuk masuk karena ASEAN merupakan partner yang terpenting bagi India.

“RCEP ini masih berlangsung. Nanti saya juga akan masih berunding lagi dengan menteri-menteri seluruh member RCEP ini,” kata Agus seraya menambahkan, mudah-mudahan pada Senin (4/11) ini masalah RCEP banyak kemajuan haslnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini