nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ditjen Pajak: Shortfall Bakal Lebih dari Rp140 Triliun

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 25 November 2019 19:09 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 25 20 2134320 ditjen-pajak-shortfall-bakal-lebih-dari-rp140-triliun-uAtCa51VKE.jpg Pajak (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan kekurangan penerimaan pajak atau shortfall pajak akan lebih dari Rp140 triliun pada 2019. Lebih tinggi dari realisasi shortfall pajak pada tahun lalu yang sebesar Rp108,1 triliun.

Direktur Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan Ditjen Pajak Yon Arsal menyatakan, dalam evaluasi realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di semester I-2019 diperkirakan shortfall mencapai Rp140 triliun. Kini, diperkirakan shortfall akan melebar dari target awal tersebut.

Baca Juga: Artis Pamer Saldo Rekening, Siap-Siap Ketemu Petugas Pajak

"Kalau melihat dari laporan semester I-2018 saja, kami sudah lebih besar dari realisasi shortfall tahun lalu. Di evaluasi semester I-2019, Ibu (Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati) menyampaikan waktu itu Rp140 triliun, jadi itu saja lebih besar," kata Yon Arsal di Jakarta, Jakarta, Senin (25/11/2019).

Hal ini mengingat seretnya penerimaan pajak yang hingga akhir Oktober 2019 hanya tumbuh 0,23% secara tahunan. Penerimaan pajak baru mencapai Rp1.018,5 triliun atau kurang Rp559 triliun dari target di 2019 yang sebesar Rp1.577,5 triliun.

 pajak

Dia menjelaskan, ada tiga faktor yang menjadi penyebab rendahnya penerimaan pajak tahun ini yakni meningkatnya pemberian insentif fiskal melalui restitusi atau pengembalian pajak. Kemudian pelemahan ekonomi global yang berimbas pada ekonomi domestik.

Tercermin dari data hingga akhir Oktober, laju impor turun 16,39% secara tahunan menjadi sebesar USD14,77 miliar. Padahal, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) impor memberikan kontribusi besar yakni 18% dari penerimaan negara.

 Baca Juga: Insentif Perpajakan, Jokowi: Bisa Berikan Tendangan yang Kuat

"Targetnya PPN impor bisa tumbuh 23% pada tahun ini, tapi sampai dengan Oktober malah jadi tumbuh -7%," katanya.

Serta faktor ketiga adalah harga komoditas yang fluktuatif. Menurutnya, perbaikan harga pada produk kelapa sawit yang saat ini terjadi masih belum bisa mengerek penerimaan negara.

"Perbaikan harga sawit ini baru bisa ditransmisikan ke penerimaan negara di Desember nanti atau tahun depan. Jadi tidak langsung, karena ini berkaitan dengan kontrak pembelian yang sifatnya beberapa bulan," ungkap Yon.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini