Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menyebut, ada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengganjal perusahaan swasta untuk bisa menjual avtur di Indonesia.
Dia menjelaskan, monopoli penjualan membuat harga avtur tidak kompetitif yang berimbas pada tingginya biaya operasional maskapai penerbangan di Indonesia, dan ujung-ujungnya membuat tarif tiket pesawat menjadi mahal.
Tarif penerbangan yang mahal itu sangat berimbas pada sektor pariwisata dalam negeri, lantaran masyarakat memilih untuk mengurangi perjalanan.
"Jadi memang selama ini yang saya lihat ada yang mengganjal, pihak BUMN-nya ini yang mengganjal semuanya," kata dia ditemui di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta.
(Fakhri Rezy)