Usut Kasus Jiwasraya, Kejaksaan Agung Bakal Panggil Rini Soemarno?

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 08 Januari 2020 20:53 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 08 320 2150825 usut-kasus-jiwasraya-kejaksaan-agung-bakal-panggil-rini-soemarno-sFNtR0eMno.jpeg BPK Beri Keterangan soal Kasus Jiwasraya (Foto: Okezone.com/Yohana)

JAKARTA - Jaksa Agung ST Burhanuddin memastikan telah mengantongi nama-nama yang diduga menjadi pelaku dari kasus gagal bayar yang terjadi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Sedikitnya sudah ada 98 saksi yang telah diperiksa.

Meski demikian, dia enggan tergesa-gesa menyampaikannya dugaan tersebut ke publik hingga didapatkan bukti-bukti yang kuat, salah satunya terkait kerugian negara yang ditimbulkan.

Baca Juga: BPK Nyatakan Jiwasraya Rekayasa Laporan Keuangan Sejak 2006

"Kami sudah memeriksa saksi 98 orang, dan perbuatan melawan hukumnya sudah mengarah ke satu titik dan sudah bukti-bukti sudah ada, tapi tidak bisa saya sebutkan apa dan siapa," ungkapnya dalam konferensi pers di Gedung BPK, Jakarta, Rabu (8/1/2020).

Saat disinggung terkait keterlibatan dan upaya pemeriksaan mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, Burhanuddin mengaku belum ada pemeriksaan hingga ke sana. Namun, dia memastikan jika perkembangan pemeriksaan ke depannya membutuhkan mengharuskan Rini terlibat, maka akan dilakukan.

BPK

"Belum sampai ke sana, saya akan memeriksa saksi-saksi yang mengarah perbuatan tindak pidana dulu. Jadi itu nanti, apakah ada relevansinya. Namun kalau nanti dari lingkaran yang kami periksa ada menuju ke situ (Rini), pasti. Tapi sampai saat ini belum ada," tegasnya.

Dia menambahkan, Kejagung pun telah melakukan penggeledahan pada 13 objek yang berkaitan dengan kasus Jiwasraya, namun lagi-lagi dirinya enggan merinci objek apa saja. Lantaran, kasus ini sangat besar bahkan berpotensi berdampak sistemik, sehingga perlu kehati-hatian dalam penanganannya.

Baca juga: BPK Segera Audit Investigasi Kebobrokan Jiwasray

"Jadi tolong beri kesempatan kami karena transaksi yang terjadi itu hampir 5.000 transaksi," imbuhnya.

Sekedar diketahui, Jiwasraya diketahui melakukan investasi pada sebagian besar aset berisiko tinggi (high risk) untuk mengejar keuntungan yang tinggi (high return). Umumnya dana investasi ditaruh pada saham berkinerja buruk dan pada reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi dengan kinerja buruk.

BPK mencatat ada indikasi kerugian negara sebesar Rp10,4 triliun dari investasi buruk yang dilakukan Jiwasraya. Terdiri kerugian akibat investasi di saham gorengan sebesar Rp4 triliun dan reksa dana berkualitas rendah sebesar Rp6,4 triliun.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini