nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Neraca Dagang Indonesia Diproyeksi Defisit Sepanjang 2019, Seberapa Dalam?

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 15 Januari 2020 09:43 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 15 20 2153038 neraca-dagang-indonesia-diproyeksi-defisit-sepanjang-2019-seberapa-dalam-xLXP97jI9Q.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kinerja neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2019 diperkirakan akan ditutup dengan mengalami defisit sebesar USD4,07 miliar. Angka ini lebih masih lebih baik dibanding posisi tahun 2018 yang defisit sebesar USD8,69 miliar.

Menurut Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto, kinerja perdagangan di bulan Desember 2019 turut menambah besarnya defisit di 2019. Lantaran, diperkirakan mengalami defisit sebesar USD970 miliar.

Baca Juga: BPS Rilis Neraca Dagang, Bagaimana Nasib IHSG Hari Ini?

"Meskipun ada kenaikan ekspor sebesar 0,94% yoy (secara tahunan) dan impor naik 0,07% yoy," katanya kepada Okezone, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Pada Desember 2019, laju ekspor diperkirakan sebesar USD14,42 miliar, dan impor sebesar USD15,37 miliar. Angka tersebut lebih tinggi dari laju ekspor Indonesia di Desember 2018 yang sebesar USD14,29 miliar, sedangkan impor sebesar USD15,36 miliar.

bps

Ryan menyatakan, naiknya angka impor di bulan Desember 2019, utamanya didukung oleh kenaikan impor non migas, yaitu barang-barang konsumsi untuk kebutuhan Natal dan Tahun Baru. Sementara, kenaikan ekspor lebih banyak didukung oleh naiknya harga komoditas sawit dan timah.

Dia bilang, kondisi ekspor maupun impor Indonesia yang hanya naik tipis dibanding tahun lalu, dikarenakan permintaan ekspor masih terbatas akibat perlambatan ekonomi dunia dan perang dagang yang masih berlanjut.

"Serta turut didorong kondisi manufaktur Indonesia yang masih menurun," kata dia.

Sementara itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan neraca perdagangan di Desember 2019 bakal defisit sebesar USD410 juta. Hal ini karena dipengaruhi oleh kecenderungan musiman impor yang tinggi pada bulan Desember

Menurut dia, kinerja ekspor bulan Desember sebenarnya cenderung meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Lantaran dipengaruhi oleh peningkatan harga komoditas ekspor dan volume ekspor.

Baca Juga: Menko Airlangga Siapkan 7 Program Atasi Defisit Neraca Dagang

"Laju ekspor diperkirakan sebesar-0,74%yoy didorong oleh kenaikan harga komoditas secara rata-rata pada periode bulan Desember seperti CPO yang naik 15,95% mtm (secara bulanan) dan karet alam yang naik 6,03% mtm," jelasnya.

Dia bilang, selain kenaikan harga komoditas, volume ekspor pun diperkirakan meningkat seiring peningkatan aktivitas manufaktur dari seluruh mitra dagang Indonesia seperti Euro Zone, Tiongkok, Jepang, India dan ASEAN.

BPS

Laju impor diperkirakan meningkat menjadi -4,73% yoy dibandingkan bulan lalu, meskipun secara bulanan impor diperkirakan akan cenderung lebih rendah dibandingkan bulan lalu. Hal ini akibat dari adanya kenaikan harga minyak sebesar 10,68%, yang mana mendorong kenaikan impor migas secara bulanan,

"Yang kemudian akan tertutupi oleh kontraksi dari impor non-migas akibat industri manufaktur Indonesia masih dalam kondisi terkontraksi yakni Indeks PMI manufaktur di bawah 50," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini