nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Virus Korona hingga Surplus Pasokan Diramal Tekan Harga Minyak 4 Bulan ke Depan

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Jurnalis · Rabu 05 Februari 2020 08:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 05 320 2163495 virus-korona-hingga-surplus-pasokan-diramal-tekan-harga-minyak-4-bulan-ke-depan-4bhJFeF2Gh.jpg Harga Minyak (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

LONDON - Pasar minyak diprediksi akan tertekan sekira empat bulan ke depan karena permintaan berkurang karena wabah virus korona di China. Tekanan pada harga juga akibat surplus minyak mentah yang diperkirakan besar sampai Agustus.

Ketakutan akan kemerosotan permintaan energi global telah membalik pasar minyak ke contango dalam perdagangan minggu ini. Contago adalah sebuah struktur di mana minyak berjangka lebih lama diperdagangkan dengan harga premium, karena para pedagang menyimpan minyak mentah untuk kemudian dijual kembali dengan harga yang lebih menguntungkan di masa depan.

Baca Juga: Harga Minyak Global Anjlok Hampir 4% Imbas Kekhawatiran Virus Korona

Minyak mentah Brent pada Selasa berada dalam contango sebanyak USD0,40 per barel antara harga untuk bulan perdagangan terdekat April dan Agustus. Untuk minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS, harga antara Maret dan Juli adalah USD0,60 per barel.

Baca Juga: Jepang Kirim Kapal Perang ke Oman, Amankan Pasokan Minyak

Struktur pasar memiliki implikasi yang signifikan. Selain mendorong penyimpanan minyak, contango juga melukai investor keuangan yang harus membayar premi setiap bulan mereka memperbarui kontrak berjangka.

"Wabah virus mungkin terbukti menjadi game-changer untuk tahun 2020," katadi Broker PVM Tamas Varga, dilansir dari Reuters, Rabu (5/2/2020)?

Dia mengatakan, untuk harga Brent 2020 melebihi rata-rata 2019 sebesar USD64,16 per barel karena perkiraan untuk penghancuran permintaan dari virus berkisar liar.

China telah menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan energi global dalam beberapa tahun terakhir dan ING Bank mengatakan pasar jelas khawatir bahwa permintaan kilang China akan mundur.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini