nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

3 Tokoh Dunia Masuk dalam Dewan Pengarah Ibu Kota Baru, Siapa Saja?

Kamis 13 Februari 2020 19:19 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 02 13 470 2168059 3-tokoh-dunia-masuk-dalam-dewan-pengarah-ibu-kota-baru-siapa-saja-pDBke6Rhab.jpg Ibu Kota (Shutterstock)

JAKARTA - Selangkah demi selangkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) berusaha mewujudkan ibu kota baru. Salah satu yang dilakukan adalah pembentukan dewan pengarah.

Tidak sembarang orang, Presiden mengisi dewan pengarah untuk ibu kota baru tersebut dengan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia.

 Baca juga: Optimisme Presiden Jokowi dalam Pembangunan Ibu Kota Baru

"Kita ingin membangun sebuah trust, ingin membangun sebuah kepercayaan sehingga kita butuh dewan pengarah dengan reputasi yang baik," kata Presiden Jokowi, dikutip dari wawancara dengan BBC Indonesia, Kamis (13/2/2020).

Dewan pengarah ibu kota baru tersebut terdiri dari beberapa tokoh, antara lain

 Baca juga: Pemindahan Ibu Kota Baru, Rencana Besar yang Digagas Sejak Era Soekarno

Pertama dari Abu Dhabi, yakni Crown Prince Mohammed bin Zayed Al Nahyan. "(Dia) memiliki reputasi di bidang pemerintahan baik, di bidang keuangan baik, di bidang penataan kota baik," jelas dia.

Kedua, Masayoshi Son yang merupakan pemilik Softbank. "(Reputasi) di bidang ICT (informasi dan teknologi komunikasi), teknologi sangat baik, di bidang keuangan juga baik," kata dia.

 Baca juga: Jokowi Tugaskan Menteri LHK Buat Lokasi Pembibitan Terbesar di Ibu Kota Baru

Ketiga adalah Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris. "Juga memiliki reputasi politik dan pemerintahan yang baik, ini yang ingin kita bangun sehingga investor itu percaya bahwa Indonesia memang bisa dipercaya," jelas dia.

Presiden juga berharap, tiga tokoh ini bisa menjadi jalan masuk investasi ke ibu kota baru.

"Ya tentu saja itu yang kita harapkan, karena dari kalkulasi yang ada, (Indonesia membutuhkan) 33 miliar dolar. (Anggaran ibu kota) dari APBN hanya kurang lebih 20 persen yang kita siapkan, 80 persen itu kita harapkan bisa dari (Public Private Partnership), bisa dari investor swasta dalam negeri, juga investor dari luar negeri," jelas dia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini