nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Indonesia Impor Bawang Putih, Tetap dari China?

Vania Halim, Jurnalis · Minggu 23 Februari 2020 09:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 22 320 2172607 indonesia-impor-bawang-putih-tetap-dari-china-bQWdWAgrSn.jpg Bawang Putih (Okezone)

JAKARTA - Permintaan komoditas pertanian bawang putih kian meningkat. Oleh karenanya, pemerintah terus menggenjot impor bawang putih untuk mensinergiskan supply dan demand terhadap komoditas pertanian tersebut.

Menurut pernyataan Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Oke Nurwan, penerbitan ijin impor bawang putih disusul adanya perkiraan stok bawang putih dalam negeri yang akan habis pada Maret 2020 mendatang. Sedangkan China yang sedang dilanda virus korona dikatakan akan tetap jadi importir bawang putih untuk Indonesia.

Pada Minggu (23/2/2020), Okezone merangkum fakta terkait impor bawang putih.

 Baca juga: Keuangan Perusahaan Importir Bawang Putih Dipantau

1. Kementerian Pertanian Usul Impor Bawang Putih Sebanyak 103 ribu Ton

Kementerian Pertanian menerbitkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) untuk impor bawang putih sebanyak 103 ribu ton. Namun usul tersebut belum bisa sepenuhnya disetujui oleh Kementerian Perdagangan.

"Jadi baru sebagian dari yang 100 ribu karena beberapa kan kita segera. RIPH kan baru salah satu syarat diterbitkannya impor. Jadi tidak serta-merta," ujar Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

 Baca juga: Alasan Mendag Belum Loloskan Sisa Izin Impor Bawang Putih

2. Impor 62.000 Ton Bawang Putih Disetujui

Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Surat Perizinan Impor (SPI) bawang putih sebanyak 62.000 Ton. Sekretaris Jenderal Kemendag Oke Nurwan mengatakan izin impor diterbitkan berdasarkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) Kementerian Pertanian.

3. China Tetap Jadi Importir Bawang Putih Indonesia

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan pemerintah Indonesia tidak akan melarang impor komoditas pertanian bawang putih di tengah masih merebaknya virus korona. Hal ini dikarenakan China merupakan importir bawang putih terbesar untuk Indonesia.

"Iya. Kalau dari China kita tetap banyak. Kita tidak melarang kalau dari China. Memang dari awal tidak melarang itu, yang dilarang impor sekarang kan hewan hidup," ujar Agus.

 Baca juga: Mendag Sebut Impor Bawang Putih Asal China Tetap Jalan Meski Ada Virus Korona

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendag Oke Nurwan mengatakan impor komoditas pertanian dari China sampai saat ini belum menemui kendala di tengah vorus korona. Lantaran, komoditas yang dilarang pemerintah adalah impor binatang hidup (live animal).

Larangan itu berdasarkan hasil penelitian ilmiah oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), bahwa transmisi virus covid-19 melalui binatang hidup. Oleh karenanya, komoditas pertanian tidak masuk dalam kategori pembawa virus (carrier).

"Scientific eveidence (bukti ilmiah) dari WHO yang jadi carrier adalah binatang hidup. Namun tidak termasuk produk ikan, karena bukan carrier. Begitu juga dengan bawang putih, bukan carrier virus,"

4. Impor Bawang Putih dari India

Meski tak menerangkan secara rinci dari mana sumber impor bawang putih berasal, Oke Nurwan menerangkan pihaknya membuka peluang impor komoditas vital tersebut dari China dan India. "Kita buka kok tidak harus dari China, ada dari India. Mungkin begitu (bisa impor seluruhnya dari China), tapi kan enggak masalah," ujarnya.

5. Kemendag Dalami Perusahaan Importir Bawang Putih

Hingga saat ini, Kementerian Perdagangan masih belum memberikan izin kepada beberapa importir bawang putih. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan tidak diberikannya izin kepada beberapa perusahaan importir itu dikarena perusahaan tersebut baru ikut dalam proses impor bawang putih.

"Kita cek lagi terutama kalau perusahaan baru kita harus cek. Jadi kalau yang sudah pernah itu kan ada referensi, kita lihat juga performa-nya. Jadi kemarin sebagian kita terbitkan tapi tetap kita akan cek dulu sampai lengkap terutama perusahaan yang baru," ujarnya.

Salah satu yang akan dilakukan pengecekan adalah rekam jejak dan kondisi keuangan dari perusahaan tersebut. Sebab Agus beranggapan pemerintah tak ingin perusahaan importir memiliki rekam jejak dan kemampuan keuangan yang buruk dan menjadi masalah di kemudian hari.

"Kita harus cek dulu kita harus hati-hati. Karena perusahaan baru kan ada perform-nya. Kan itu mau transaksi kita harus tahu. Kemampuan-kemampuan perusahaan itu dan nanti akan kita cek secara keseluruhan," kata Agus.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini