Share

Aprindo Catat Belanja Naik Hingga 15%, Efek Panic Buying?

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 03 Maret 2020 18:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 03 320 2177610 aprindo-catat-belanja-naik-hingga-15-efek-panic-buying-mG2IERSXVz.jpg Minimarket (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Aksi panic buying yang dilakukan masyarakat berdampak pada lonjakan penjualan ritel. Berdasarkan catatan dari Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) jumlah belanja harian naik 10% hingga 15% dibandingkan hari biasannya akibat aksi panic buying.

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan, meskipun mengalami lonjakan, kenaikan ini jumlah belanja harian ini disebut tidak terlalu signifikan. Selain itu, kenaikan ini juga hanya bersifat sementara.

Pasalnya, ada kemungkinan jika jumlah belanja harian ini bisa turun. Sebab akibat semua kebutuhan sudah terpenuhi dan beli, masyarakat enggan kembali belanja untuk waktu yang lama. "Kenaikannya hanya bersifat sementara dan naiknya juga tidak terlalu signifikan, sekitar 10% sampai 15%," ujarnya saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (3/3/2020).

Baca Juga: Masker hingga Sembako Mahal, Jakarta dan Surabaya Dalam Pantauan Satgas Pangan

Roy pun mengaku cukup terkejut saat aksi panic buying ini ramai. Sebab menurutnya, kejadian panic buying ini begitu cepat terjadinya karena hanya berselang beberapa menit saja sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan ada 2 Warga Negara Indonesia (WNI) yang terkena virus korona.

Berdasarkan catatannya, tercatat ada enam daerah yang ramai melakukan aksi panic buying. Keenam daerah tersebut bermula dari DKI Jakarta dan diikuti oleh daerah lainnya seperti Bandung dan Surabaya.

Baca Juga: Mahfud MD Minta Masyarakat Tak Panic Buying, Stok Sembako Cukup

"Fenomena ini terjadi sangat cepat, kemarin laporan dari teman-teman di daerah, ada sekitar enam kota, seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya," kata Roy.

Oleh karena itu lanjut Roy, dirinya menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak panik menanggapi peristiwa korona ini. Sebab, ketersediaan bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari masih aman dan cukup tersedia.

"Pasokan sangat aman, para peritel memastikan stok aman dan tidak ada kelangkaan barang," jelasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini