Aksi Pemerintah dan Peritel dalam Menjaga Harga Masker di Tengah Wabah Korona

Vania Halim, Jurnalis · Sabtu 07 Maret 2020 07:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 06 320 2179248 aksi-pemerintah-dan-peritel-dalam-menjaga-harga-masker-di-tengah-wabah-korona-dAFcEIC5s8.jpg Masker (Okezone)

JAKARTA - Sejumlah masker dan cairan pencuci tangan atau hand sanitizer ludes terjual di pusat perbelanjaan. Hal ini usai pemerintah mengumumkan bahwa Indonesia positif terserang wabah virus korona atau Covid-19.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemesanan kepada supplier dan distributor untuk menambah jumlah masker dan hand sanitizer. Dirinya mengakui sejak ada pengumuman tersebut, sejumlah toko penjual masker dan hand sanitizer terus membludak.

“Sampai hari ini pembelian masker dan sanitizer di beberapa peritel anggota Aprindo memang melonjak dan pemesanan terus berlangsung juga kepada supplier atau distributor,” ujarnya.

 Baca juga: Ada Wabah Virus Korona, Ini Barang-Barang yang Diborong Masyarakat Dunia!

Berikut Okezone sudah mengumpulkan fakta mahal dan langkanya masker, Sabtu (7/3/2020) :

1. Masker yang Dijual Peritel Tidak Akan Mengalami Kenaikan Harga

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menjelaskan masker yang dijual oleh peritel tidak akan mengalami kenaikan harga. Sebab, harga yang dijual ke pasaran masih akan tetap menyesuaikan dengan harga beli dari pabrik.

“Untuk harga masker tersebut, tidak akan ada kenaikan harga pada peritel Aprindo. Selagi tidak ada perubahan harga dari pabrik atau distributor,” ujar Roy.

2. Satgas Pantau Harga Masker dan Hand Sanitizer

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pangan Daniel Tahi Monang Silitonga mengatakan, ada sejumlah daerah yang melakukan penimbunan bahan pokok, masker hingga cairan pembersih tangan atau hand sanitezer. Misalnya adalah daerah Jakarta dan Surabaya.

 Baca juga: Antisipasi Virus Korona, Menteri BUMN Minta Swasta Turun Bantu Rakyat

"Sampai saat ini ada beberapa daerah melakukan pemeriksaan di Jakarta dan Surabaya dan ini masih batas di pemeriksaan dan mereka sudah membeli bahan barang ini dengan harga mahal yang di atas harga eceran tertinggi (HET)," ujarnya.

3. Pedagang yang Tertangkap Menaikkan Harga Akan Ditindak

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pangan Daniel Tahi Monang Silitonga menerangkan pihaknya akan melakukan pengawasan di daerah-daerah untuk memantau harga agar tetap terkendali. Sehingga dirinya meminta kepada masyarakat untuk tenang dan tidak melakukan panic buying.

"Semua hasil pengecekan kita di lapangan masih keadaan terkendali, keadaan pangan masih terkendali dan terkontrol, pasokan masih ada dan distribusi masih terlaksana dengan baik," ungkap Daniel.

Selain itu lanjut Daniel, pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan para asosiasi di daerah. Koordinasi dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok kebutuhan pokok yang ada di daerah-daerah.

"Kami langsung koordinasi untuk mengecek ketersediaan pangan dan pasokan pasokan terhadap seluruh retel, seluruh pasar yang ada," jelasnya.

4. Belum Ditemukan Pelanggaran Persaingan Usaha

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sedang melakukan penelitian terkait kelangkaan masker di pasar. Hal itu terjadi setelah keluarnya pernyataan resmi terkait dua warga Indonesia positif terjangkit virus korona (Covid-19).

"Sebelum tahu ada pengumuman dari Presiden Jokowi ini, kami sudah lakukan penelitian terkait kelangkaan masker. Kami berikan porsi untuk ini karena menyangkut hajat banyak. Ini sudah produk penelitian, ini tahap pertama sebelum penyelidikan dan pemberkasan dan masuk ke tahap persidangan," ujar Komisioner KPPU Guntur Syahputra Saragih.

Dia menjelaskan dari hasil penelitian KPPU, saat ini belum ditemukan adanya pelanggaran persaingan usaha. "Jadi, sampai kemarin ekspose, kami belum temukan pelanggaran kartel dan lainnya," ungkap dia.

5. Ada Beberapa Wilayah yang Kekosongan Stok Masker

Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Guntur Syahputra Saragih menyebutkan ada beberapa wilayah yang kekosongan stok masker. Hal ini akan menjadi konsen KPPU. Dirinya pun pastikan belum ada lonjakan harga masker yang signifikan.

"Memang ada di beberapa tempat yang harganya cukup tinggi dan meresahkan. Tapi belum ada pelanggaran. Maka kenaikan harga karena ada faktor permintaan meningkat dan supply tak bisa langsung memasok," tandas Guntur.

6. Kelangkaan Masker di Jabodetabek

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyebut saat ini kelangkaan masker terjadi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Direktur Ekonomi KPPU Zulfirmansyah setelah melakukan studi terkait kelangkaan masker. "Di Jabodetabek memang ada kelangkaan. Tapi di pasar swalayan masih jual dengan harga normal yakni Rp9.500 pcs, namun cepat habis," ujar Zulfirmansyah di Kantor KPPU Jakarta, Selasa (3/3/2020).

7. Lapor Jika Temukan Pelanggaran Persaingan Usaha

Direktur Ekonomi KPPU Zulfirmansyah meminta kepada semua pihak agar bisa melapor apabila ada pengusaha yang melakukan pelanggaran persaingan usaha terkait kelangkaan atau kenaikan harga masker.

"Masyarakat bisa lapor aja ke kita (KPPU). Kemudian apakah ditemukan harga yang tinggi di online dan itu memang terbukti baru," kata Zulfirmansyah.

Menurut dia, masyarakat bisa melapor kepada KPPU melalui berbagai cara. Seperti bisa melalui online, email bahkan bisa langsung datang ke Kantor KPPU.

"Dan kami (KPPU), akan menindak badan usaha yang melakukan kecurangan terkait kelangkaan masker. Tapi untuk usaha kecil dikecualikan," tuturnya.

8. Kemendag Tidak Dapat Membatasi Harga Masker di Pasaran

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Suhanto mengatakan, pemerintah meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak melakukan aksi panic buying. Sebab, aksi ini bisa dimanfaatkan oleh pedagang untuk menaikkan harganya dengan suka-suka.

“Kami tidak bisa batasi, kami belum berikan pembatasan. Tapi imbauan seperti yang sudah disampaikan Pak Menteri (Perdagangan)," ujarnya saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (3/3/2020).

Oleh karena itu lanjut Suhanto, pihaknya sudah berkoordinasi dengan produsen masker untuk segera mendistribusikan maskernya untuk kebutuhan dalam negeri. Meskipun pemerintah juga tidak melarang produsen untuk mengekspor masker ke luar.

9. Menteri BUMN Erick Thohir Minta Farmasi Agar Mempertahankan Ketersediaan Stok

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta perusahaan negara yang memberikan pelayanan publik untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus korona atau Covid-19. Seperti BUMN farmasi, Erick meminta supaya mempertahankan ketersediaan stok dan menjaga stabilitas harga alat pelindung diri, cairan antiseptik atau alat-alat sanitasi.

Demikian disampaikan dalam surat edaran tentang kewaspadaan terhadap penyebaran virus korona atau Covid-19 yang dikutip Okezone, Rabu (4/3/2020). Erick juga meminta untuk memperkuat koordinasi dengan Kementerian/Lembaga lainnya, pemerintah daerah, rumah sakit dan institusi diluar pemerintah untuk aksi pencegahan maupun penanganan dan evaluasi terhadap pelanggan yang terduga/korban Covid-19.

10 Menghimbau kepada Para Pedagang untuk Tidak Mengambil Kesempatan

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengimbau para pedagang untuk tidak mengambil kesempatan terkait dengan masker yang banyak dicari masyarakat.

Selain itu, dia juga meminta kepada masyarakat untuk tidak berlebihan sehingga menyebabkan masker menjadi mahal dan langka.

”Bagi mereka yang tidak sakit ya sebaiknya kita tidak perlu pakai masker, jadi hanya yang sakit saja yang pakai masker sehingga tidak meningkatkan kepanikan juga dan kedua juga menimbulkan kekhawatiran kepada masyarakat sekitar," kata Menko dilansir dari laman Setkab.

11. Akan Dibuka Impor Bahan Baku Masker dari Eropa

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menyebut pihaknya akan membuka impor bahan baku masker dari Eropa. Hal itu dilakukan apabila stok masker di apotek Kimia Farma habis.

"Kalau nanti stok habis, kita harus beli dari Eropa. Sudah ada stoknya di Eropa. Stok masker saat ini ada 400 ribu dus. Jadi sekitar 250 ribu pcs yang tersedia di 1.300 apotek kimia farma," ujar dia.

Menurut dia saat ini, bahan pembuatan masker yang diperdagangkan berasal dari China. "Kami jelaskan bahwa yang impor dari China itu hanya bahan pembuatan maskernya saja," tutur dia.

12. Tingkatkan Produksi Masker Dalam Negeri

Kementerian Perdagangan akan meningkatkan produksi masker di Tanah Air. Hal ini untuk mengisi kebutuhan masker di dalam negeri yang habis diborong oleh masyarakat imbas penyebaran virus korona Covid-19.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, pemerintah sudah meminta kepada produsen masker untuk meningkatkan produksinya. Dirinya yakin jika produksi ditingkatkan maka harga masker akan kembali turun.

“Nanti kita juga soal itu produksinya ditingkatkan. Kalau ditingkatkan pasti akan turun lagi,” ujarnya saat ditemui di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini