Virus Corona Merebak, Harga Bahan Baku Jamu Kian Mahal

Selasa 17 Maret 2020 12:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 17 320 2184565 virus-corona-merebak-harga-bahan-baku-jamu-kian-mahal-XtqQt3iBTL.jpg Jamu (Indoindian)

JAKARTA - Penyebaran virus corona di seluruh dunia sempat membuat ramuan tradisional empon-empon viral di media sosial. Namun, ramuan tersebut membuat harga beberapa rempah-rempahnya mengalami kenaikan.

Mengutip VoA Indonesia, Jakarta, Selasa (17/3/2020), Salah satu gerai spesialis minuman jamu di Ibukota, Suwe ora jamu, mengaku mengalami peningkatan pembelian hingga 50% sejak maraknya pemberitaan virus corona.

 Baca juga: Keren! Pengusaha Muda Jajaki Ekspor Jamu ke Australia

“Temulawak biasanya di rata-rata outlet itu, saya kirim 50 suka return setelahnya (masih sisa). Tapi sekarang malah sering habis,” jelas Ayu Savitri dari bagian pemasaran Suwe Ora Jamu.

Menurut Ayu, pembelian jamu di gerai-gerainya memuncak pasca diumumkannya 2 WNI positif corona awal Maret silam. Ayu megatakan kini jamu kunyit dan temulawak setiap harinya ludes terjual di ke-3 gerainya di Jakarta.

 Baca juga: Mantap! Serap Jutaan Tenaga Kerja, Industri Jamu dan Obat Tradisional Tumbuh 10%

Permintaan jamu yang tinggi mengakibatkan kenaikan harga bahan baku jamu melonjak. Hal ini diamini oleh Ayu yang sempat terdampak kenaikan harga jahe hingga 2 kali lipat harga normal. Namun produksi minuman Suwe Ora Jamu bekerjasama langsung dengan perkebunan di Sukabumi, sehingga bisa meminimalisir dampak kenaikan harga bahan baku jamu pasaran saat ini.

Memanfaatkan minat konsumsi jamu yang tinggi ini, Suwe Ora Jamu meningkatkan produksinya demi bisa penuhi tingginya permintaan.

“Kita produksi saat ini bisa sampai 3 kali lipatnya,” ujar Ayu.

 Baca juga: Ekonomi Pulih, Industri Jamu Diprediksi Membaik di Tahun Ini

Sementara itu, Teuku Faris (28) mengaku setiap hari konsumsi jamu racikan rumahan sejak pemerintah umumkan WNI yang positif corona. Kebiasaan baru itu ia lakukan secara kolektif sekeluarga.

“Saya sebenarnya tidak terlalu khawatir (dengan penyebaran virus), tapi ibu panik dan ingin kita tingkatkan daya tubuh,” ungkap pria yang bekerja di sebuah BUMN ini.

Seminggu terakhir Faris dan keluarga tidak pernah terlewat mengonsumsi ramuan jamu yang terdiri dari jahe, temulawak, kunyit, dan madu. Mesti mengaku tidak sepanik ibundanya, Faris mengaku tingkatkan kewaspadaan, mengingat pekerjaan yang menuntutnya bermobilitas tinggi.

Selain konsumsi jamu dan suplemen, Faris mengaku meminimalisir kontak sentuhan dengan benda-benda yang ada di tempat umum. “Bahkan sekarang kalau di bandara sudah enggak pakai troli. Hand rail di eskalator enggak dipegang, kalau habis tekan tombol lift pun langsung cuci tangan,” ujar Faris.

Kebiasaan mengonsumsi jamu ini juga dilakukan oleh Calista, 23, bahkan sejak sebelum kabar virus corona masuk ke Indonesia. “Biasanya tuh cuma minum jamu kunyit asam sebulan sekali, karena kan aku (untuk kebutuhan) cewe,” ujar Calista.

Calista mengaku mulai mengonsumsi jamu beras kencur yang ia beli melalui layanan pesan antar di sebuah gerai jamu. Meski mengaku santai, namun pemberitaan mengenai corona tetap membuatnya lebih tingkatkan kewaspadaan, khususnya dengan menjaga daya tahan tubuhnya.

“Seminggu minimal 2-3 kali minum jamu. Aku beli pake gojek langsung 1 liter beras kencur,” kata wirausahawan muda ini.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini