Darurat, The Fed Beli Utang Perusahaan Jangka Pendek

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 18 Maret 2020 07:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 18 20 2185021 darurat-the-fed-beli-utang-perusahaan-jangka-pendek-J5PVkDB0ln.jpg The Fed Kembali Buat Kebijakan. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

NEW YORK - Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve meluncurkan kebijakan moneter lanjutan dengan melakukan pembelian utang jangka pendek era krisis keuangan. Langkah ini supaya mencairkan pasar kredit anjlok karena meningkatnya darurat kesehatan di tengah wabah virus corona.

The Fed pernah mengeluarkan kebijakan fasilitas pendanaan kertas komersial untuk pertama kali pada 2008. Karena dalam kondisi darurat, Bank Sentral akan kembali membeli utang perusahaan jangka pendek langsung dari perusahaan yang menerbitkannya.

Baca Juga: The Fed Pangkas Suku Bunga, Donald Trump Senang

The Fed mengatakan fasilitas tersebut akan memberikan penghalang likuiditas kepada penerbit surat berharga AS melalui kendaraan tujuan khusus yang akan membeli surat berharga komersial tanpa jaminan dan aset langsung dari perusahaan yang memenuhi syarat.

Pasar kertas komersial adalah sumber utama pendanaan jangka pendek untuk berbagai bisnis, tetapi likuiditas telah berkurang dalam beberapa minggu terakhir.

Baca Juga: Lindungi Ekonomi dari Virus Korona, The Fed Pangkas Suku Bunga Jadi 0%

"Dengan menghilangkan banyak risiko bahwa penerbit yang memenuhi syarat tidak akan mampu membayar kembali investor dengan menggulirkan kewajiban kertas komersial mereka yang jatuh tempo, fasilitas ini harus mendorong investor untuk sekali lagi terlibat dalam pinjaman jangka di pasar kertas komersial," tulis pernyataan The Fed, dikutip dari Reuters, Rabu (18/3/2020).

"Pasar kertas komersial yang lebih baik akan meningkatkan kemampuan bisnis untuk mempertahankan lapangan kerja dan investasi ketika negara ini menangani wabah koronavirus," tambah The Fed.

Bank Sentral AS telah dipaksa untuk mengambil beberapa tindakan darurat selama dua minggu terakhir. Di antaranya memangkas suku bunga mendekati nol, menjanjikan ratusan miliar dolar dalam pembelian aset dan menyuntikkan uang tunai ke pasar pendanaan jangka pendek, di antara pergerakan berlebihan.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini