Industri Pariwisata Diprediksi Kembali Booming Tahun Depan, Ini Faktanya!

Taufik Fajar, Jurnalis · Senin 20 April 2020 09:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 19 320 2201675 industri-pariwisata-diprediksi-kembali-booming-tahun-depan-ini-faktanya-ZqeAERTOlg.jpg Bandara (Okezone)

JAKARTA - Kegiatan perekonomian sangatlah terdampak karena virus Corona atau Covid-19. Di mana, pencegahan penularan tersebut harus memaksa industri mengurangi bahkan menghentikan aktivitasnya.

Adapun industri yang paling berdampak adalah sektor pariwisata. Dari larangan bepergian hingga penutupan suatu wilayah membuat industri ini layaknya mati.

Akan tetapi, situasi ini dinilai dapat kembali pulih seiring perkembangan virus Corona ke depannya. Oleh sebab itu, Jakarta, Senin (20/4/2020), berikut fakta-fakta industri pariwisata bisa kembali hidup sedia kala:

 Baca juga: Presiden Jokowi Minta Jangan Ada PHK Besar-besaran di Industri Pariwisata

1. Industri Pariwisata Akan Kembali Booming

 

Presiden Joko Widodo meyakini dampak pariwisata akibat corona hanya berlangsun pada tahun ini. Sebab mulai tahun depan, industri pariwisata akan kembali rebound dan kembali moncer.

Bahkan, Jokowi menyebut tahun depan sebagai tahunnya pariwisata. Oleh karena itu, dirinya ingin semuanya bersiap diri untuk menghadapi fenomena ini

“Saya meyakini hanya sampai pada akhir tahun. Tahun depan akan menjadi booming di bidang pariwisata,” ujarnya.

2. Permintaan Jokowi Sambil Menanti Pariwisata Booming

Pertama, dirinya meminta program pelindungan sosial untuk sektor pariwisata. "Pekerja di sektor pariwisata ini betul-betul pastikan ada dan sampai ke pada sasaran," ujarnya.

Selanjutnya, dirinya mengatakan, realokasi anggaran Kementerian Pariwisata dan ekonomi kreatif (Kemenparekraf) harus diarahkan ke program padat karya. Terutama bagi pekerja-pekerja di bidang pariwisata.

 Baca juga: 3 Jurus Wishnutama Hadapi Tekanan Virus Corona di Industri Pariwisata

"Ketiga, penyiapan stimulus ekonomi bagi pelaku sektor pariwisata dan ekraf ini betul-betul dilakukan agar bertahan," ujarnya.

3. Jokowi Minta Jangan Ada PHK Besar-besaran di Sektor Pariwisata

Sektor Pariwisata paling terdampak di tengah wabah virus Corona atau Covid-19. Hal ini dikarenakan adanya pembatasan yang dilakukan oleh seluruh negara terdampak untuk menekan angka penyebaran wabah tersebut.

Oleh sebab itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin sektor pariwisata tetap bisa bertahan hingga keadaan kembali membaik. Hal ini membuat perlunya stimulus ekonomi bagi pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

"(Stimulus ekonomi) ini betul-betul harus dilakukan agar (sektor pariwisata) bertahan dan tidak melakukan Pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran," ujar Jokowi.

4. Turis Asing Anjlok, 50% Devisa Sektor Pariwisata Lenyap akibat Virus Corona

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memperkirakan pendapatan negara dari devisa di sektor pariwisata akan anjlok hingga 50%. Hal ini disebabkan oleh pandemi virus corona yang terjadi di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama mengatakan, devisa yang berasal dari sektor pariwisata semula diprediksi mencapai USD20 miliar. Namum karena pandemi ini, devisa dari sektor pariwisata hanya didapatkan separuhnya saja.

"Mungkin potensi dari devisa saja itu kurang lebih tahun lalu kan kita dapat devisa sekitar USD20 miliar ya dari pariwisata, mungkin tahun ini bisa sekitar separuhnya gitu ya bahkan lebih dari pada separuhnya gitu ya kehilangan devisa," kata Wishnutama.

5. Masyarakat Sudah Tak Sabar Nikmati Keindahan Alam

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meyakini bahwa dampak virus Corona atau Covid-19 akan berakhir di akhir tahun. Apalagi, terhadap sektor pariwisata yang akan melonjak saat virus tersebut berakhir.

"Semua orang ingin menikmati kembali keindahan-keindahan yang ada di wilayah-wilayah yang ada tempat wisatanya sehingga optimisme itu yang harus terus diangkat," ujarnya.

Namun, lanjutnya, jangan sampai Indonesia terjebak akan pesimisme karena masalah Covid-19 ini. Sehingga, booming pariwisata tidak terjadi.

“Jangan sampai nanti kita terjebak kepada pesimisme karena masalah Covid-19 ini. Sehingga, apa, booming yang akan muncul setelah Covid-19 ini selesai itu tidak bisa kita manfaatkan secara baik,” ujar Presiden.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini