Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah 3 Perempuan Indonesia Bekerja di Tengah Pertambangan Australia

Kisah 3 Perempuan Indonesia Bekerja di Tengah Pertambangan Australia
Ilustrasi Tambang (Foto: Shutterstock)
A
A
A

Jelita Sidabutar

Dia adalah seorang 'Project Geologist' di perusahaan Seequent yang berbasis di kota Perth, Australia Barat. Setelah lulus dari bidang ilmu geologi di Universitas Padjajaran Bandung, Jelita pernah bekerja sebagai ahli geologi di PT Nusa Halmahera Minerals di Indonesia.

Sebagai seorang ahli geologi, Jelita bertanggung jawab dengan melakukan pemetaan dan memperkirakan simpanan mineral, serta menafsirkan data geologi, untuk kemudian memberi saran soal rencana produksi tambang. Sebuah pekerjaan yang sangat membutuhkan kekuatan fisik, menurutnya, karena juga kadang ia harus mengangkat peralatan berat ke lapangan.

Melihat dari Atas Proyek Tambang Emas

Tapi Jelita mengaku tantangan terbesarnya sebagai seorang perempuan bekerja di pertambangan Australia adalah justru datang dari luar. Seringkali perempuan asal Pulau Samosir, Sumatera Utara ini mendapatkan "komentar-komentar negatif" sebagai seorang istri dan ibu yang kerja di lokasi pertambangan.

Seperti kebanyakan pekerja pertambangan, ia setidaknya bekerja di lapangan setidaknya selama dua minggu. "Seringkali saya dihakimi terlalu mengejar karir dengan pergi ke lokasi tambang, yang terpencil, ketimbang mengurus keluarga," katanya kepada ABC Indonesia.

Tapi ia menyadari jika perempuan memang memiliki banyak peran, sebagai seorang istri, ibu, dan juga kadang bekerja untuk membantu keluarga. "Bagi saya, prioritas saya adalah orang-orang di sekeliling saya, dimulai dengan suami dan anak-anak, dan tentunya diri sendiri," kata Jelita.

Tak Ada Pengawalan Pemerintah, 40 persen Kawasan Karst di   Jawa Barat Rusak Akibat Aktivitas Pertambangan

Saat ia sedang berada di rumah, ia mengaku selalu memastikan memiliki "pembicaraan yang mendalam" dengan anak-anaknya, sehingga ia tetap bisa melihat perkembangan anak-anaknya.

"Kuncinya adalah harus menemukan keseimbangan dalam memainkan peran-peran itu, misalnya kalau saya sedang tidak bisa melakukan pekerjaan rumah, ya saya bayar orang saja."

"Kita hanya perlu fleksibel saat menghadapi situasi, jangan kemudian marah-marah kalau rumah berantakan, kemudian jadi stress sendiri."

Jelita mengatakan sudah banyak melihat pekerja pertambangan yang sukses menunjukkan kemampuannya menjalankan peran berbeda sebagai seorang perempuan.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement