Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah 3 Perempuan Indonesia Bekerja di Tengah Pertambangan Australia

Kisah 3 Perempuan Indonesia Bekerja di Tengah Pertambangan Australia
Ilustrasi Tambang (Foto: Shutterstock)
A
A
A

Yulia Hadi

Tinggal di sebuah 'camp' saat berada di lokasi tambang menjadi salah satu hal yang paling dinikmati oleh Yulia Hadi. Meski kadang ia merasa tinggal di "sebuah penjara", karena letaknya yang jauh di pedalaman, dengan rutinitas yang hanya "kerja, makan, tidur" setiap harinya.

"Saya harus bangun jam 4:30 setiap paginya, mulai kerja jam 5:30 pagi dan kita bekerja selama 12 jam setiap hari selama dua minggu," katanya. Yulia sudah bekerja di industri tambang Australia selama 10 tahun, dengan posisi terakhirnya adalah sebagai 'Trade Assistant' dan 'All Rounder' di kawasan Pilbara, Australia Barat.

Ia masih ingat saat pertama kali bekerja di pertambangan Australia. "Saya deg-degan, merasa tidak nyaman, karena saya satu-satunya perempuan Asia yang kerja di perusahaan itu," ujar perempuan berusia 37 tahun ini.

Tak Ada Pengawalan Pemerintah, 40 persen Kawasan Karst di   Jawa Barat Rusak Akibat Aktivitas Pertambangan

"Tapi saya punya tujuan, saya melakukan ini untuk keluarga, karena saya adalah tulang punggung mereka, jadi saya paksa untuk bisa mampu dan secara mental siap." Lahir dan besar di Balikpapan, Kalimantan Timur, Yulia mengatakan ayahnya juga pernah bekerja di perusahaan tambang batu bara sebagai pengendara truk.

"Suatu hari saya bilang ke ayah, 'saya ingin mengendarainya'. Saya enggak tahu, tapi saya senang mengerjakan hal-hal yang maskulin sejak kecil."

Yulia yang seorang ibu tunggal mengatakan ia lebih memilih mengendari truk di lokasi pertambangan, ketimbang pekerjaan sebelumnya. Ia pernah menjadi pengemudi truk di kota Melbourne, untuk mengirimkan buku-buku sekolah ke seluruh kawasan di negara bagian Victoria.

Baca Juga:  Harga Patokan Ekspor Tambang Turun Akibat Virus Korona

Menurutnya, salah satu tantangan bekerja di industri tambang Australia adalah "budaya maskulin barat", kadang dengan lelucon yang bisa salah kaprah dan penuh kata-kata kasar. "Saya tentu tidak membawanya ke hati, saya katakan pada mereka kalau itu tidak benar, meski saya tahu mereka tidak benar-benar bermaksud seperti itu."

Bekerja di pertambangan dikenal dengan gajinya yang tinggi, ia mengaku bayarannya bisa mencapai AU$ 2.700, atau lebih dari Rp25 juta, per pekan setelah pajak.

Saat ia pulang dari tugasnya di lokasi tambang, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beristirahat, bertemu anak-anaknya atau bersama teman-temannya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement