Disentil Jokowi, Benarkah Ada Permainan Harga Jual Beras dan Gabah Kering?

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 22 April 2020 20:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 22 320 2203373 disentil-jokowi-benarkah-ada-permainan-harga-jual-beras-dan-gabah-kering-pLsbs8QhRU.jpg Petani (Kementan)

JAKARTA - Naiknya harga beras secara mendadak membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) mempertanyakannya kepada Kementerian Perdagangan. Wajar saja, mengingat Kementerian Perdagangan selalu mengatakan harga stabil dan stok cukup hingga lebaran.

Yang membuat Jokowi semakin curiga adalah harga gabah yang dijual petani justru anjlok. Sehingga, muncul kecurigaan akan adanya yang mengambil kesempatan untuk mendapatkan keuntungan berlebih.

Berdasarkan pantauannya, harga gabah kering di lapangan mengalami penurunan sebesar 5%. Namun nyatanya, harga jual beras masih mengalami kenaikan sebesar 0,4%.

 Baca juga: Disentil Jokowi tentang Harga Beras, Apa Kata Kementan dan Kemendag?

"Ini ada apa? Tolong dilihat betul lapangannya, lapangannya dicek betul. Ini pasti ada masalah," ucap Jokowi.

Sementara itu, Pengamat Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Ketua Umum Bank Benih dan Teknologi Tani (AB2TI) Dwi Andreas Santosa membantah adanya kenaikan harga beras di pasaran. Justru menurutnya, harga beras yang dijual di pasaran realtif stabil.

Sementara itu, berdasarkan data dari hargapangan.id pada hari ini, harga beras dengan kualitas super II di pasar tradisional dijual tetap yakni Rp12.750 per kg. Sementara untuk harga jual beras kualitas super II maupun medium I di pasar modern juga tetap dengan harga masing-masing Rp13.550 per kg dan Rp12.950 per kg.

Sedangkan untuk harga jual beras di pedagang besar pada hari ini juga tetap. Adapun harga jual beras kualitas super II dijual dengan harga Rp11.850 per kg.

Adapun harga jual beras terendah ada di provinsi Nusa Tenggara Barat dengan angka Rp9650 per kg. Semetnara untuk harga jual beras tertinggi ada di Provinsi Kalimantan Tengah yakni Rp14.250 per kg.

 Baca juga: Presiden Jokowi Minta Dilakukan Reformasi Sektor Pangan

"Kata siapa harga beras naik. Malah berdasarkan data dari Bank Indonesia dalam dua minggu ini harga beras stabil," ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (22/4/2020).

Selain itu, dirinya juga membantah jika harga gabah di tingkat petani mengalami penurunan. Justru, harga gabah di tingkat petani ini mengalami kenaikan terus setiap bulannya.

Berdasarkan data yang dihimpun AB2TI, harga gabah ditingkat petani pada Maret 2020 lalu saja lebih tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang sebesar Rp4.200 per kg. Sementara untuk bulan ini juga diprediksi akan mengalami kenaikan lagi menjadi Rp4.500 per kg.

"Kata siapa lagi. Di bulan lalu itu Rp4.311 per kg (harga jual gabah kering) lebih tinggi dari HPP Rp4.200. Kami akan mengadakan survei lagi akhir bulan, tapi kami perkirakan (harga jual) menjadi Rp4.500 per kg," jelasnya.

 Baca juga: FAO Peringatkan Bahaya Krisis Pangan Dunia, Presiden Jokowi: Ini Hati-Hati

Dwi menambahkan, dirinya juga mengaku heran data mana yang dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo. Namun Dwi memastikan untuk data yang dimilikannya ini akurat karena langsung melakukan survei ke petani-petani kecil yang ada di daerah.

"Bisa gini (kalau pak Presiden) ini datanya dari seluruh Indonesia. Sedangkan data dari (kami diambil) dari sentra-sentra produksi. Bagi kami dari sentra produksi padi (akurat) karena kami survei dari petani-petani kecil," jelasnya.

Meskipun begitu lanjut Dwi, dirinya mengakui jika produksi pada pada tahun ini akan lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Hal ini lebih disebabkan adanya perubahan cuaca yang mengakibatkan mundurnya produksi petani.

"Yang jelas yang pasti produksi padi lebih rendah dari sebelumnya. kalau data statistik pun kalau Januari sampai maret lebih rendah. Karena mundurnya masa tanam ini menyebabkan luas tanah menurun automotasi. Sehingga saya pastikan produksi (lebih rendah)," ucapnya.

Meskipun ada penurunan produksi lanjut Dwi, namun stok beras masih mencukupi hingga Oktober mendatang. Sehingga, pemerintah perlu mencari jalan keluar untuk mengantisipasi agar kebutuhan beras di sisa tahun ini bisa tercukupi.

"Stok sampai mencukupi sampai Oktober. Tidak usah berharap yang aneh aneh saja yang paling penting bulan Juli berapa produksi 2020. Dan ini sudah ketahuan karena produksi panen pertama sudah ketahuan sehingga bisa diperkiran. Kalau ternyata produksi 2020 lebih rendah sudah barang tentu," kata Dwi.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini