Industri Pariwisata Eropa Sulit 'Hidup Kembali' karena Covid-19

Agregasi VOA, Jurnalis · Rabu 06 Mei 2020 10:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 06 320 2209893 industri-pariwisata-eropa-sulit-hidup-kembali-karena-covid-19-N3CtDXFBch.jpg Pariwisata (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Industri pariwisata Eropa kehilangan pendapatan akibat penutupan wilayah akibat virus corona. Negara kawasan Eropa kesulitan membuka kembali industri pariwisata karena menghadapi berbagai aturan dan pedoman keselamatan di seluruh benua.

Negara-negara Eropa Selatan dan di kawasan Laut Tengah menarik jutaan turis. Salah satu tujuan berkemah yang paling populer adalah Perancis. Tetapi negara itu menutup semua lokasi kemahnya pada 17 Maret, dan tempat-tempat itu kehilangan musim semi yang menguntungkan, yang biasanya menghasilkan sekitar sepertiga dari pendapatan tahunannya.

Baca Juga: Pandemi Corona, Kemenparekraf Dorong Pelaku Usaha Kreatif Go Digital

Ge Kusters adalah wakil presiden serikat perkemahan Perancis dan mengelola lokasi kamp di daerah Dordogne yang populer di Perancis barat daya. Wilayah yang memiliki istana, gua, dan situs bersejarah itu setiap tahun menarik lebih dari tiga juta wisatawan.

Biasanya, Kusters akan menyambut sekitar 10.000 orang yang diperkirakan mengunjungi lokasi tersebut setiap tahun. Namun belakangan ini, ia menyusun rencana terperinci untuk membuka kembali lokasi perkemahan dengan aman.

“Luas lokasi perkemahan berhektar-hektar, tidak dalam ukuran meter persegi, jadi tidak ada masalah jarak antar orang. Blok-blok toilet lebih terkait dengan kebersihan dan aturan khusus tetapi itu, tidak terlalu bermasalah. Saya kira dalam hal keramaian juga akan banyak berubah. Acara-acara besar seperti konser dan lain sebagainya, mungkin tidak ada lagi. Jadi, kami harus menyesuaikan diri dengan cara baru untuk menghibur orang,” kata Kusters dilansir dari VOA, Rabu (6/5/2020).

Baca Juga: Industri Pariwisata Diprediksi Kembali Booming Tahun Depan, Ini Faktanya!

Meskipun warga Inggris, Jerman, dan Belanda menyumbang 40% wisatawan bagi Perancis, wisatawan lainnya adalah warga negara Perancis. Karena virus corona, banyak orang lebih menyukai berlibur lebih dekat dari tempat tinggal mereka agar lebih aman, namun juga karena masing-masing negara punya aturannya sendiri.

Perancis dan Italia secara perlahan berencana membuka kembali wilayahnya tetapi untuk saat ini tidak akan mengizinkan lintas perbatasan regional. Jerman memperingatkan warga yang bepergian ke luar negeri meskipun Austria berharap bisa menarik wisatawan Jerman.

Yunani, negara yang PDB-nya 20% bergantung pada pariwisata sedang mempertimbangkan hanya mengizinkan wisatawan yang bisa membuktikan mereka tidak menderita COVID-19 dan memiliki apa yang disebut paspor kesehatan.

Pedoman yang berbeda akan menyulitkan tidak hanya perjalanan antar Eropa, tetapi juga wisatawan dari luar benua itu. Pelonggaran penutupan wilayah tidak akan berhasil, kata Tom Jenkins, CEO Asosiasi Pariwisata Eropa.

“Dilonggarkannya penutupan wilayah secara bertahap, dan dalam cara yang berbeda, menjadi keprihatinan. Seluruh industri pariwisata sampai Maret 2020 sudah siap menyambut wisatawan dalam jumlah yang nyata. Dan jika setiap gerakan wisatawan itu sangat dibatasi, maka bisnis tidak akan berjalan," tukasnya.

Komisi Uni Eropa sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan industri pariwisata dengan menginvestasikan dana dari anggaran Uni Eropa. Sektor ini menyumbang 10% dari PDB Uni Eropa, dan lebih dari 27 juta orang bekerja pada lapangan kerja yang berhubungan dengan pariwisata.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini