Relaksasi Kebijakan Mudik Rawan Memperlama Penanganan Covid-19

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 07 Mei 2020 13:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 07 320 2210539 relaksasi-kebijakan-mudik-rawan-memperlama-penanganan-covid-19-4WqQ7f70bH.jpeg Waspada Virus Corona. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Pemerintah membuka kembali transportasi umum seperti pesawat hingga kereta api mulai hari ini. Artinya, masyarakat diperbolehkan untuk bepergian ke luar kota dengan syarat harus untuk kepentingan bisnis ataupun keperluan mendesak lainnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, kebijakan baru yang dikeluarkan ini merupakan blunder yang dilakukan oleh pemerintah. Pasalnya, beberapa waktu lalu, pemerintah menerbitkan pelarangan mudik, namun belum genap sebulan pemerintah justru melakukan pelonggaran.

Baca Juga: Garuda Indonesia Beroperasi Lagi, Masyarakat Sudah Bisa Pesan Tiket

Tulus menjelaskan, adanya larangan mudik Lebaran yang dilakukan 24 April lalu lewat Permenhub No. 25 tahun 2020 mendapatkan banyak apresiasi. Namun apresiasi tersebut hanya seumur jagung, karena Kemenhub akan merevisi Permenhub No. 25/2020 tersebut, yang intinya akan merelaksasi/melonggarkan larangan mudik, dan akan diberlakukan mulai hari ini

"Relaksasi Larangan Mudik Lebaran Kebijakan Blunder guna menahan laju persebaran virus corona," ujarnya mengutip keterangan tertulis, Kamis (7/5/2020).

Menurut Tulus, kebijakan ini juga sangat kontradiktif dengan komitmen pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Bahkan, Tulus menilai jika pemerintah seakan tidak serius dalam menangani virus corona ini.

Baca Juga: Ingin Naik Pesawat? Penumpang Harus Tunjukan Surat Keterangan Sehat dan Negatif Corona

"Sungguh ini merupakan kebijakan yang kontra produktif, bahkan blunder jika larangan mudik itu direlaksasi, apapun cara dan alasannya. Ini artinya pemerintah tidak konsisten alias bermain api dengan upaya mengendalikan agar Covid -19 tidak makin mewabah ke daerah daerah," jelasnya.

Menurut Tulus, adanya relaksasi kebijakan mudik ini bisa membuat penangan virus corona akan berjalan lama. Sebab, adanya relaksasi ini berpotensi untuk menyebarkan virus dari daerah episentrum ke daerah yang masih steril.

"Mengingat persebaran virus corona makin meluas, bahkan epicentrumnya berpotensi pindah ke daerah," ucapnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini