Harga Minyak Dunia Meroket Lebih dari 2%

Wilda Fajriah, Jurnalis · Jum'at 29 Mei 2020 08:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 29 320 2221291 harga-minyak-dunia-meroket-lebih-dari-2-phmu0dXOIK.jpg Minyak (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Harga minyak naik sekitar 2% pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat pagi WIB) karena peningkatan produksi yang stabil dalam kegiatan penyulingan minyak AS. Hal ini mengimbangi persediaan minyak mentah di tengah kekhawatiran bahwa undang-undang keamanan baru China terhadap Hong Kong dapat mengakibatkan sanksi perdagangan.

Melansir Reuters, Jakarta, Jumat (29/5/2020), harga minyak Brent untuk Juli naik 55 sen atau 1,6%, menjadi USD35,29 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 90 sen atau 2,7%, menjadi menetap di USD33,71.

Baca Juga: Trump Bikin Aturan soal Medsos, Wall Street Melorot

Pergerakan minyak mentah AS itu mempersempit premi Brent di atas WTI ke level terendah sejak pertengahan April.

Administrasi Informasi Energi (EIA) mengatakan, persediaan minyak mentah AS naik 7,9 juta barel pekan lalu, melebihi ekspektasi, karena peningkatan besar impor dari Arab Saudi.

Baca Juga: Mengintip Cara Kerja PNS di Era New Normal

Namun, laporan EIA juga menunjukkan produksi kilang dan stok bensin turun secara tak terduga, sementara persediaan minyak mentah di pusat penyimpanan Cushing AS di Oklahoma turun 3,4 juta barel.

Pasar pada awalnya jatuh karena kenaikan besar dalam stok minyak mentah, tetapi beralih ke wilayah positif ketika melihat penurunan pada titik pengiriman Cushing untuk WTI, kata Bob Yawger, direktur EBT di Mizuho di New York.

Harga minyak telah pulih dalam beberapa pekan terakhir karena antisipasi peningkatan permintaan setelah pandemi coronavirus mengurangi konsumsi dunia sekitar 30%. Investasi keseluruhan menurun dan pengurangan produksi AS menyeimbangkan kelebihan pasokan, tetapi permintaan masih belum pulih sepenuhnya.

Pasar juga khawatir Washington dapat menjatuhkan sanksi perdagangan terhadap China karena langkah Beijing untuk memberlakukan undang-undang keamanan baru di Hong Kong.

Ketidakpastian tentang komitmen Rusia untuk melanjutkan pengurangan produksi yang dalam membuat rally tetap terkendali. Arab Saudi dan produsen OPEC lainnya sedang mempertimbangkan perpanjangan pemangkasan rekor produksi sampai akhir 2020 tetapi belum mendapatkan dukungan dari Rusia, menurut OPEC + dan sumber-sumber industri Rusia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini