Mendes PDTT: New Normal Bukan Sekadar Perubahan Disiplin Tapi Juga Budaya

Wilda Fajriah, Jurnalis · Jum'at 05 Juni 2020 18:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 05 320 2225208 mendes-pdtt-new-normal-bukan-sekadar-perubahan-disiplin-tapi-juga-budaya-i3tU5B0wQs.jpg Abdul Halim Iskandar (Okezone)

JAKARTA - Penerapan new normal diharapkan menjadi sebuah budaya baru di Indonesia. Hal ini dikarenakan banyaknya protokol-protokol yang ditetapkan pemerintah.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar atau yang akrab disapa Gus Menteri mengatakan, New normal, lanjut Gus Menteri, merupakan satu tatanan kehidupan baru yang normal tetapi dengan kebiasaan yang lebih baik dibandingkan dengan normal sebelumnya sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Menurutnya, banyak pelajaran yang didapat selama masa pandemi ini berlangsung.

 Baca juga: PSBB DKI Jakarta Masuk Masa Transisi, Bos BI: Mendorong Perekonomian

"Saya pribadi sangat senang dengan pengunaan diksi new normal, karena tentu tidak ada warga Indonesia yang tidak paham apa makna dari kata 'new' itu," papar Gus Menteri pada sebuah agenda online, Jumat (5/6/2020).

"New normal bukan sekadar perubahan disiplin, tetapi suatu perubahan sikap perilaku bahkan budaya," tambahnya.

 Baca juga: New Normal di Destinasi Wisata Indonesia, Kemenparekraf Tekankan Kebersihan hingga Keamanan

Ia bercerita, jika pada awalnya masyarakat enggan menjaga kesehatan. Bahkan ia mengaku jika dirinya pernah makan menggunakan tangan tanpa mencucinya terlebih dahulu. Namun saat ini, masyarakat terbiasa untuk mencuci tangan setiap saat.

"Saya pun dulu termasuk orang yang mengabaikan kesehatan. Cuci tangan ketika ingin makan saja, bahkan pernah enggak cuci tangan. Sedangkan saat ini kita sudah terbiasa untuk selalu mencuci tangan. Bahkan hanya karena habis memegang suatu benda," jelas Gus Menteri.

Belum lagi konteks sosial, Gus Menteri memaparkan, sebelum terjadinya pandemi, ia melihat masyarakat masih banyak yang belum tertib saat antre. Seperti naik kereta yang berebut, naik angkot yang berdesakan, semua tidak menerapkan budaya antre. Namun dengan adanya tatanan kehidupan baru atau new normal ini, akan membawa perubahan positif terhadap seluruh lapisan masyarakat.

"Dulu kalau kita lihat orang-orang seringkali tidak menerapkan budaya antre saat ingin naik kendaraan umum. Dengan adanya tatanan new normal ini, diharapkan masyarakat dapat terbiasa melaksanakan budaya antre karena sudah terbiasa menerapkan physical distancing," ujar Gus Menteri.

Ia berharap, new normal dapat menjadi sebuah gaya hidup baru. Dimana masyarakat sudah terbiasa antre, menjaga kebersihan, serta menjaga kesehatan.

"Saya berharap kondisi new normal ini dapat membawa perubahan sehingga masyarakat bisa punya lifestyle baru. sudah terbiasa antre, sudah biasa menjaga kesehatan, sudah terbiasa menjaga kebersihan. Kita maksimalkan dan terapkan di seluruh desa," pungkasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini