Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kebijakan New Normal Diharapkan Dongkrak Kesejahteraan Para Petani

Karina Asta Widara , Jurnalis-Minggu, 07 Juni 2020 |17:15 WIB
Kebijakan New Normal Diharapkan Dongkrak Kesejahteraan Para Petani
Foto : Dok okezone
A
A
A

Jakarta- Dalam upaya menghadapi Covid-19, Pemerintah berencana secara perlahan beralih ke normal baru. Dan kebijakan ini diharapkan menjadi pendongkrak kesejateraan petani melalui dimulainya aktivitas hotel, restoran, catering dan perkantoran.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan dampak yang timbul akibat pandemi ini masih sangat dirasakan masyarakat khususnya para petani. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah produk pertanian yang terus mengalami tekanan yang diakibatkan oleh panen raya musim tanam pertama.

Selain itu, faktor lainnya yakni gangguan distribusi akibat PSBB, penurunan daya beli masyarakat, melemahnya sektor ekonomi yang terkait dengan sektor pertanian seperti Horeka dan perkantoran.

"Kondisi ini menyebabkan deflasi kelompok bahan makanan dimana jumlah bahan pangan di lapangan banyak, namun permintaan berkurang yang berdampak pada pendapatan petani,"ungkapnya.

Menurutnya, selama pandemi deflasi kelompok bahan makanan masih berimplikasi positif terhadap stabilitas sosial dan politik. Sehingga untuk mengurangi dampak yang terjadi pada pendapatan yang diterima petani, pemerintah melalui kementerian terkait memberikan bantuan sosial yang dapat mengkompensasi penurunan daya beli petani yang diakibatkan oleh penurunan harga produk pertanian.

"Dengan kebijakan normal baru utamanya di sektor pariwisata diharapkan dapat memulihkan permintaan produk pertanian sehingga dapat memperbaiki harga ditingkat petani," tuturnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat bahwa panen raya musim tanam pertama sukses untuk mengamankan stok pangan sehingga tidak terjadi gejolak kenaikan harga dan tersendatnya distribusi 11 bahan pokok khususnya dalam menghadapi bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

"Eksport komoditas pertanian juga masih jalan sebesar 12.6 persen. Nilai Tukar Petani (NTP) memang turun akibat pandemi Covid-19, tapi ini hanya sesaat nanti akan segera naik lagi," harapnya.

Menghadapi fenomena yang terjadi di kalangan para petani ini, Syahrul mengatakan bahwa pihak nya sedang melakukan berbagai upaya, salah satunya melakukan pengendalian dari sisi harga pertanian.

"Pengendalian ini utamanya melalui koordinasi dengan Bulog dan Kemendag," paparnya.

Saat ini, Kementan terus melakukan upaya untuk tetap menjaga stok pangan utamanya beras. Direktur Jenderal Tanaman Pangan , Suwandi menambahkan bahwa upaya untuk menjaga stok yang ada yakni dengan percepatan tanam pada April-September 2020 ini akan dilaksanakan di 8 wilayah andalan, 9 wilayah utama dan 16 wilayah pengembangan.

"Kementan memberikan bantuan benih, alat mesin pertanian, asuransi pertanian dan pendampingan, agar percepatan tanam sukses dan memberikan hasil yang tinggi,"katanya.

Ia juga mengatakan target luas tanam 2020 sebesar 11,66 juta hektar, yang berpotensi menghasilkan 33,6 juta ton beras. Sementara stok beras akhir Juni 2020 diperkirakan masih mencapai 6,84 juta ton.

Lebih lanjut, potensi panen padi Mei 2020 mencapai 1,25 juta hektar dengan hasil beras sebesar 3,43 juta ton. Sedangkan potensi panen padi pada Juni 2020 mencapai 0,74 juta hektar, yang dapat menghasilkan beras sebesar 1,94 juta ton.

"Musim tanam ke dua, target kita di atas 5,6 juta hektar dan mudah-mudahan kalau ini bisa menghasilkan maka ketahanan pangan itu bisa kita jamin lebih baik," tutupnya. CM

(Yaomi Suhayatmi)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement