Direvisi Lagi, Sri Mulyani: Ekonomi RI Kuartal II Minus 3,8%

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 19 Juni 2020 17:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 19 320 2233065 direvisi-lagi-sri-mulyani-ekonomi-ri-kuartal-ii-minus-3-8-0jo4taeQTe.jpeg Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 menjadi minus 3,8%. Semula Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi 3,1%.

Menurut Sri Mulyani, di kuartal II-2020 Indonesia pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami tekanan yang sangat tinggi. Mengingat sejumlah daerah yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah virus corona.

Baca Juga: Jangan Kaget, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II Paling Rendah

"Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan sebelumnya yang hanya minus 3,1%. Namun kuartal II kita alami tekanan, kemungkinan dalam kondisi negatif, BKF (Badan Kebijakan Fiskal) bilang negatif 3,8%,” ujar Sri Mulyani dalam video conference, Jumat (19/6/2020).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menambahkan, proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun dan 2020 juga akan tergantung pada semester kedua ini. Artinya, pemulihan ekonomi di kuartal III dan IV akan menentukan perekonomian di tahun mendatang.

“Jadi kondisi apakah semester dua atau kuartal III dan kuartal IV, apakah kita sudah bisa pulih, sudah tertuang dalam postur APBN yang baru,” jelasnya.

Baca Juga: Fakta Menarik Cegah Resesi, Ekonomi Tidak Minus

Oleh karena itu lanjut Sri Mulyani, pemerintah telah menyiapkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan penanganan covid-19 untuk mendorong perekonomian. Secara total, biaya yang dianggarkan Kementerian Keuangan untuk penanganan covid-19 mencapai Rp695,2 triliun.

Angka tersebut naik dari usulan semula, yakni Rp405,1 triliun. Nantinya biaya penanganan covid-19 mengubah struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara drastis.

"Artinya keuangan negara akan mengalami tekanan yang sanga berat," ucapnya.

(kmj.-)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini