Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Korban PHK Capai 6,4 Juta Orang, Apa Sih Penyebabnya?

Giri Hartomo , Jurnalis-Sabtu, 27 Juni 2020 |11:10 WIB
Korban PHK Capai 6,4 Juta Orang, Apa Sih Penyebabnya?
Karyawan di PHK (Foto: Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terus terjadi meskipun kini aktivitas ekonomi sudah kembali dibuka pada tatanan baru atau era new normal. Menurut data pengusaha, sudah ada 6,4 juta karyawan yang di PHK dan 2,9 juta orang yang dirumahkan.

Pengamat Ekonomi Indef Bhima Yudhistira mengatakan, gelombang PHK yang terjadi karena kurangnya pemasukan yang didapat oleh pengusaha meskipun ekonomi sudah kembali dibuka. Hal ini disebabkan permintaan yang belum pulih akibat covid-19.

Baca juga: Pilot Kontrak Kena PHK, Bos Garuda: Gaji Tetap Dibayar

"Betul mereka terpaksa melakukan PHK karena permintaan belum pulih," ujarnya saat dihubungi Okezone, Sabtu (27/6/2020).

Menurut Bhima, kondisi tatanan baru atau new normal ini ternyata belum mampu untuk menggerakkan konsumen untuk belanja. Hal tersebut terlihat dari mobilitas masyarakat yang masih rendah pada era tatanan baru ini atau new normal.

Berdasarkan data Google Mobility per 22 Juni disebutkan bahwa mobilitas atau pergerakan penduduk ke pusat perbelanjaan dan rekreasi minus 21%. Sementara untuk spesifik di daerah Jakarta mengalami minus 31%.

Baca juga: Ini Berbagai Upaya Kemenaker Guna Jaga Daya Beli Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19

"Ini indikasi masyarakat masih khawatir adanya pandemi sehingga tetap menunda pergi ke pusat perbelanjaan," jelasnya

Selain itu, ada tekanan yang cukup berat pada daya beli di kelompok bawah. Sedangkan kelompok menengah atas justru lebih memilih untuk menahan spendingnya.

"Selain itu di kelompok masyarakat menengah bawah terjadi tekanan hebat pada daya beli. Di kelompok masyarakat menengah atas cenderung saving atau menyimpan uang," kata Bhima.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement