Angka Kemiskinan Melonjak, Antisipasi Kondisi Terburuk Dipersiapkan

Senin 29 Juni 2020 20:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 29 320 2238418 angka-kemiskinan-melonjak-antisipasi-kondisi-terburuk-dipersiapkan-zHMaQdPh2Z.jpg Jumlah Kemiskinan Akibat Virus Corona Meningkat. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kondisi pandemi Covid-19 dipastikan turut berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat. Salah satunya mengenai angka kemiskinan yang justru akan melonjak.

Pemkot Yogya pun menerapkan asumsi terburuk agar langkah antisipasinya bisa lebih baik.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogya Agus Tri Haryono, pihaknya membuat tiga kondisi untuk melihat capaian target kinerja yakni pesimis, moderat dan optimis.

“Kondisi pesimis itu merupakan asumsi terburuk, sedangkan moderat itu kisaran tengah-tengah dan optimis ketika kondisi sudah mau membaik. Seperti kita lihat, selama pandemi ini kan belum ada kejelasan sampai kapan sehingga kita ambil yang pesimisnya,” urainya, dikutip dari KRJogja, Senin (29/6/2020).

Baca Juga: Fakta Lonjakan Kemiskinan dan Pengangguran akibat Corona, Nomor 5 Tak Disangka-sangka

Oleh karena itu, target angka kemiskinan yang saat ini tercatat 6,8%, hingga akhir tahun diprediksi melonjak jadi 13,97%. Akan tetapi pada kondisi moderat, bisa mencapai 12,4% dan kondisi optimis 10,6%.

Kenaikan angka kemiskinan juga tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya jumlah pengangguran, pertumbuhan ekonomi yang bergerak minus serta tingkat kesenjangan atau gini rasio yang semakin tinggi.

Baca Juga: Presiden Jokowi Targetkan Kemiskinan Ekstrem 0% pada 2024

Agus menjelaskan, asumsi-asumsi tersebut dikemukakan juga untuk mengimbangi perubahan kinerja anggaran yang terjadi tahun ini. Meski demikian, target RPJMD 2017-2022 tetap akan digenjot. Sehingga kendati ada perubahan asumsi, namun target angka kemiskinan pada tahun 2022 yang ditetapkan 7,1%menjadi acuan utama.

“Tahun ini memang sedang sulit. Bahkan untuk bisa menyaingi pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu juga rasanya belum memungkinkan. Makanya perlu ada strategi pembangunan agar mulai tahun depan ada upaya yang lebih strategis,” urainya.

Di samping itu, kondisi terburuk yang dijadikan pedoman lantaran sektor ekonomi di Kota Yogya mayoritas ditopang oleh industri pariwisata. Hal ini dapat dilihat dari 17 sektor Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kota Yogya, yang paling tinggi akomodasi dan makan minum. Dua sektor itu di dalamnya ialah industri pariwisata. Sedangkan selama masa pandemi kali ini, industri pariwisata merupakan yang paling terpukul.

“Pariwisata mungkin akan kembali ramai mendekati akhir tahun. Tetapi itu pun masih mengandalkan wisatawan lokal. Turis asing masih sangat terbatas,” imbuh Agus.

Meski demikian, kendati pertumbuhan ekonomi diprediksi terseok-seok, namun kemandirian masyarakat di Kota Yogya cukup tinggi. Selama pandemi ini rata-rata uang dari masyarakat di luar bantuan dari pemerintah, yang beredar mencapai Rp3 miliar perbulan. Hal itu cukup bagus karena konsep Gandeng Gendong sudah mampu berjalan. Apalagi banyak kampung yang memiliki program lumbung pangan atau ketahanan pangan dengan saling berbagi.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini