Transaksi Digital Banking Meroket, Nasabah Juga Inginkan Hal Ini

Kunthi Farmar Shandy, Jurnalis · Kamis 23 Juli 2020 15:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 23 320 2250953 transaksi-digital-banking-meroket-nasabah-juga-inginkan-hal-ini-UTPb1gzQ7p.jpg Ekonomi RI (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Pandemi virus corona atau Covid-19 mengubah pola interaksi dan kegiatan masyarakat secara drastis di berbagai aspek termasuk transformasi pola transaksi. Salah satu solusi atas masalah social distancing di dunia perbankan adalah digital banking demi tetap memberikan layanan prima bagi nasabah dan masyarakat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, semua pihak dipaksa untuk melakukan aktivitas yang keseluruhannya dilakukan secara online atau digital.

"Bahkan layanan perbankan konvensional mulai menurun dan penggunaan digital banking meningkat," kata Heru saat webinar Nasional "The Future of Digital Banking di Jakarta, Kamis (23/7/2020).

Baca Juga: Terkuak, Ini Penyebab Biaya Operasional Bank di Indonesia Tinggi 

Saat ini, digital banking bukan lagi menjadi layanan masa depan di industri perbankan, namun menjadi keharusan di era the new normal. Pandemi Covid 19 pun membuat tren penggunaan transaksi digital meningkat. Bahkan transaksi melalui layanan digital bank tumbuh pesat.

Sebut saja BNI, transaksi layanan elektronik seperti SMS banking, internet banking, dan mobile banking naik 84,4%. Sedangkan BCA pembukaan rekening melalui video banking mencapai 5.100/hari atau digital payment mengalami penigkatan 20%-30%. BRI juga mengalami peningkatan pesat dimana pada Mei 2020 transaksi melalui digital banking mencapai 6 juta/hari atau naik 31%.

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Perbankan Syariah Mulai Sakit karena Corona 

OJK pun menyatakan akan mendukung pengembangan digital banking dengan memperhatikan prinsip keamanan dan perlindungan terhadap nasabah.

"OJK akan menyiapkan infrastruktur pengaturan yang lebih principle-based dalam mendukung terciptanya ekosistem yang kondusif bagi transformasi digital layanan perbankan," ungkap dia.

Heru menuturkan, OJK sudah menyiapkan beberapa regulasi dalam mendukung transformasi Digital diantaranya POJK No. 12/POJK.03/2018 tentang Penyelenggaraan layanan perbankan digital oleh Bank Umum dan POJK No. 38/POJK.03/2016 tentang Penerapan manajemen risiko dalam penggunaan teknologi informasi oleh Bank Umum.

"OJK mendukung penyiapan dasar hukum percepatan digitalisasi terkait dengam aktifitas antara lain open Banking, Open API, Cloud Computing dan lain-lain," katanya.

Sementara itu, aktivitas keuangan yang dilakukan dengan digital banking mengalami peningkatan. Berdasarkan data per April 2020 transaksi top up e-walet naik 81% sementara transaksi transfer uang meningkat 78%.

Begitu juga dengan pembayaran rutin seperti listrik dan PDAM melonjak 55%. Sedangkan pembelian pulsa atau token listrik melalui digital banking mengalami peningkatan 53%.

Heru mengungkapkan, ternyata ada beberapa fitur yang diharapkan nasabah ke depan dalam perbankan digital. Berdasarkan survei, 35% responden menginginkan dapat mengajukan kredit online. Lalu 41% dapat mengakses mutasi rekening lebih lama dan sebesar 42% pembukaan rekening secara online.

Untuk pengajuan dan persetujuan Kredit secara online, Heru menuturkan ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Saat ini masih terdapat beberapa ketentuan pada sektor perbankan, yang mewajibkan penggunaan tanda tangan basah atau persetujuan tertulis dalam berhubungan dengan nasabah.

"Ketentuan tanda tangan basah atau persetujuan tertulis, perlu ditafsirkan secara lebih luas, yaitu termasuk dengan tanda tangan digital/digital signature dan persetujuan tertulis dalam bentuk elektronik," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini