JAKARTA - Pandemi virus corona mengubah tatanan kehidupan manusia, seperti yang biasa kerja harus dirumahkan bahkan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Pasalnya, perusahaan menghentikan produksi karena kebijakan karantina wilayah di dalam negeri dan luar, sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona.
Untuk itu, bagi karyawan yang masih bisa kerja dan mendapat gaji, harus bersyukur. Sebab, banyak rekan kerja yang harus berhenti kerja hingga pemotongan gaji
Karena ketidakpastian inilah, perencanaan keuangan sangat penting. Menurut Perencana Keuangan Andi Nugroho, hal pertama yang harus dilakukan adalah menunda atau mengerem pengeluaran yang sifatnya senang-senang. Situasi seperti ini harus banyak-banyak menyimpan uang untuk cadangan.
Baca Juga: Susah Cari Beasiswa S2 saat Pandemi, Relakan Tabungan Tapi Tetap Cari Income
"Mengerem dulu untuk pengeluarannya. Jadi jangan berfoya-foya dulu. Artinya jajan-jajan dikurangi," ujarnya saat dihubungi Okezone, Selasa (28/7/2020).
Menurut Andi, ada baiknya sejak dini mulai mengalokasikan pengeluaran untuk dana darurat. Atau bisa juga kamu mengalokasikan penghasilan untuk investasi meskipun jumlahnya tidak terlalu besar.
Baca Juga: Cara Menabung yang Tepat agar Bisa Berkurban
"Terus kemudian pengeluaran difokuskan untuk dana darurat dan tabungan. Bahkan dikit-dikit mulai berinvestasi artinya jangan terlalu banyak," ucapnya.
Menurut Andi, idealnya alokasi dan darurat sebesar 10% dari penghasilan. Artinya, penghasilan Rp5 juta, maka dana darurat yang disiapkan adalah Rp500 ribu setiap bulan.
Namun, lanjut Andi, saat ini situasinya berbeda sehingga dana darurat yang disiapkan harus lebih besar. Seharusnya dana darurat yang disiapkan pada saat pandemi adalah 30% dari penghasilan.
Artinya jika kamu memiliki penghasilan Rp5 juta, maka Rp1,5 juta merupakan dan darurat yang wajib kamu sisihkan. Alokasi dana darurat ini bisa didapatkan dari anggaran leasur yang semula besaran anggaran adalah 10% dari penghasilan.
"Idealnya si 10% dari penghasilan kita. Cuma dalam kondisi seperti ini kalau saya menyarankan hal-hal yang kenikmatan hidup kita rem dulu, kita stop dulu jadi lebih banyak fokusnya di dana darurat saja. Bisa 20%-30% penghasilan kita untuk dana darurat dan tabungan dan memang impactnya adalah mengurangi pengeluaran yang bersifat leasur. Jajan , makan di resto, nongkrong di cafe kita stop dulu aja kalau kita merasa tempat saya kerja akan goyang nih. Kaya gitu-gitu," jelasnya.
Menurut Andi, dana darurat ini bisa menyatu dengan anggaran tabungan per bulan. Atau kamu juga bisa memisahkan dana darurat dengan uang yang harus kamu masukan ke tabungan.
"Kalau bisa dipisah lebih bagus. Cuma kalau repot aplikasinya pembagiannya dijadiin satu aja tidak apa. Karena kan prinsipnya dana darurat itu kan dana yang bisa dicairkan digunakan sewaktu waktu. Kebanyakan dalam bentuk di dalam rekening tabungan kita," jelasnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.