Share

Curaleaf Holdings Jadi Perusahaan Ganja Terbesar di Dunia

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 03 Agustus 2020 11:38 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 03 320 2255990 curaleaf-holdings-jadi-perusahaan-ganja-terbesar-di-dunia-CicqQdREeh.jpg Perusahaan Ganja Terbesar di Dunia. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Pandemi virus corona tak melulu membuat kerugian bagi perusahaan. Seperti yang dialami Curaleaf Holdings (CURLF), mencatat kinerja positif selama pandemi Covid-19.

Perusahaan di Massachusetts yang memproses dan menjual ganja melalui apotik di 18 negara bagian, telah menjadi perusahaan ganja terbesar di dunia. Di mana Curaleaf Holdings baru saja menyelesaikan pembelian perusahaan pembudidaya ganja di Chicago dan pengecer Grassroots seharga USD830 juta atau setara Rp12,2 triliun (mengacu kurs Rp14.600 per USD).

Baca Juga: 10 Perusahaan Raksasa Agribisnis Dunia, AS Mendominasi

Dengan pembelian ini, Curaleaf telah menjadi perusahaan ganja terbesar secara global berdasarkan penjualan. Adapun pendapatan tahunan yang diperkirakan sekitar USD1 miliar atau Rp14,72 triliun. Demikian dikutip dari CNN, Senin (8/3/2020).

Selama pandemi, jumlah dan nilai akuisisi di semua industri kompak menurun. Menurut firma hukum White & Case, nilai total kesepakatan akuisisi yang diumumkan pada paruh pertama 2020 sebesar USD901,7 miliar atau Rp13,2 triliun atau turun 53% dari tahun sebelumnya.

Namun, pada tahun lalu, Curaleaf telah mengambil alih 15 perusahaan operatoe mapan di negara-negara seperti Colorado, Florida dan Arizona. Meskipun sebagian besar lebih kecil.

Baca Juga: Ramai PHK, Pengusaha Curhat soal Stimulus

Kesepakatan dalam industri ganja sebenarnya relatif kecil, dalam kisaran USD200 juta hingga USD900 juta atau Rp2,94 triliun hingga Rp13,24 triliun. Itu pun untuk beberapa perusahaan yang mengalami kendala untuk menyelesaikan kesepakatan karena harga saham anjlok dan akses ke modal mengering.

Sebagai contoh pada bulan Maret, akuisisi perusahaan Canano, Harvest Health & Recreation (HRVSF) senilai USD850 juta atau Rp12,51 triliun sesama pengecer dan penggarap ganja, digagalkan karena alasan-alasan itu. Harvest juga mengatakan otoritas lokal dan negara yang bertanggung jawab untuk meninjau dan menyetujui transfer kepemilikan terhalang oleh pandemi, menunda proses akuisisi.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini