JAKARTA - Menanam menjadi salah satu kegiatan yang paling banyak dilakukan selama aktivitas masyarakat banyak dilakukan di dalam rumah, guna mencegah penyebaran virus corona. Bila didalami, ternyata kegiatan menanam memiliki nilai komersil yang tinggi, seperti budidaya jeruk keprok.
Jeruk keprok cukup banyak dikenal masyarakat dan mempunyai nilai komersial yang tinggi. Beberapa jenis jeruk yang secarar besar-besaran di kembangkan di antaranya, jenis jeruk keprok Siam, keprok Garut, keprok Punten, keprok Tejokulo dan keprok Madura.
Melansir dari buku "Budi Daya Tanaman Jeruk" oleh Aak, Jakarta, Rabu (19/8/2020), dengan usaha budidaya tanaman jeruk ini ternyata sudah banyak petani yang terangkat kehidupan ekonominya menjadi lebih baik.
Baca Juga: Pentingnya Faktor Iklim saat Memulai Budidaya Kopi
Hal tersebut meliputi daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Riau, Jambi, Sumatera Utara, dan Bali. Namun, tidak semua keprok komersial diusahakan petani. Dewasa ini yang banyak diusahakan keprok Siam, keprok Garut dan keprok Madura.
Jenis-jenis jeruk ini mampu berbuah beberapa kali dalam setahun. Setiap kali sesudah masa kering, tanaman ini selalu membentuk cabang-cabang baru dan berbunga. Sehingga, kontinuitas produksi yang dipasarkan dapat dijamin di pasar buah.
Baca Juga: Lowongan Kerja Data Analyst, Profesi yang Lagi Hype
Selain dari jenis-jenis keprok tersebut, masih ada beberapa jenis jeruk keprok yang mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti keprok pulung (Ponorogo), keprok Tawangmangu (Karanganyar, Surakarta), keprok Grabag (Magelang), keprok beras Sitepu (tanah Karo, Sumatera Utara), keprok kacang (Singkarak, Sumatera Barat), keprok selayar (Jeneponto, Sulawesi Selatan), keprok Dilli (Timor Timur).
Di negara-negara maju, hasil ikutan dari buah jeruk sudah lama dikembangkan menjadi produk-produk bermanfaat. Misalnya seperti di negara paman "Sam" (USA), penanaman jeruk sudah merupakan industri tersendiri dalam satu areal.
Karena terlalu banyaknya buah jeruk yang diolah, maka banyak juga sampah dari buah jeruk yang berupa kulit luar, kulit dalam dan biji. Nah, dari sampah buah jeruk tersebut setelah diteliti dan dikaji ternyata dapat menghasilkan hasil ikutan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, seperti gula tetes atau sirop, alkohol, minyak dari kulitnya, minyak dari biji, pectin untuk pembuatan jelly, dan sebagainya.
Untuk memproduksi hasil ikutan tersebut, kiranya tidak sulit untuk diusahakan di negara Indonesia. Karena potensi bahan relatif lebih murah dan cukup banyak, serta lebih mudah diperoleh dalam skala besar.
Apalagi jika dikaitkan dengan sasaran bidang pertanian untuk menciptakan industri pertanian (agro industri) akan sangat cocok, karena hasil ikutan buah jeruk produksi di Indonesia masih sedikit, yaitu baru terbatas pada hasil pengolahan rumah tangga (home industry).
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.