JAKARTA - Kuartal III-2020 telah dilalui. Saat ini masyarakat sedang menanti-nanti hasil perekonomian di kuartal penentu resesi ekonomi tersebut.
Hal ini dikarenakan, pada kuartal II-2020 ekonomi Indonesia mengalami minus 5,3%. Jika kuartal III masih kontraksi, dipastikan Indonesia masuk ke jurang resesi.
Oleh sebab itu, Jakarta, Sabtu (3/10/2020), berikut fakta-fakta mengenai resesi yang sudah di depan mata:
Baca juga: Ekonomi Indonesia Waspada, Ketidakpastian Kian Tinggi Usai Trump Positif Covid-19
1. Pengertian Resesi
Resesi adalah penyebaran penurunan ekonomi yang signifikan di seluruh sektor ekonomi yang berlangsung lebih dari beberapa kuartal.
Menurut garis pemikiran yang dipopulerkan ekonom Julius Shiskin di 1974, istilah resesi biasanya didefinisikan sebagai periode ketika produk domestik bruto (PDB) menurun selama dua kuartal berturut-turut.
Baca juga: Trump Positif Covid-19, Apa Dampaknya ke Pasar Keuangan?
Dalam resesi, kita mungkin merasakan efek gabungan dengan beberapa cara berbeda. Seperti, klaim pengangguran naik, kebiasaan belanja berubah, penjualan melambat, dan peluang ekonomi berkurang.
Jadi dalam praktiknya, resesi ditandai tidak hanya oleh penurunan PDB riil. Akan tetapi juga penurunan pendapatan pribadi riil, penurunan penjualan dan produksi manufaktur, dan kenaikan tingkat pengangguran.
2. Pengusaha Mal Sudah Rasakan Resesi Terlebih Dahulu
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menyatakan, resesi ekonomi sudah dirasakan dalam beberapa bulan terakhir bagi pelaku usaha pusat perbelanjaan.
"Sebetulnya buat kami, resesi sudah dirasakan dari beberapa bulan lalu, jika diumumkan resesi itu memang cuma akumulasi saja" kata Alphonzus.
Baca juga: Kapan Covid-19 Berakhir? Sri Mulyani: Tidak Tahu
Menurutnya, resesi ekonomi yang terjadi di Tanah Air tidak bisa dihindari. Sebab, negara lain pun mengalami situasi yang sama.
"Namun, yang perlu diperhatikan bagaimana pemerintah dapat mempersingkat mungkin resesi ini tidak berkepanjangan. Itu yang harus dilakukan pemerintah," jelasnya.
3. Pengusaha Lebih Khawatir Depresi Ekonomi
Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengaku tak terlalu khawatir dengan ancaman resesi tersebut. Yang terpenting kini pemerintah harus fokus menangani pandemi Covid-19 agar mampu memulihkan kembali perekonomian Tanah Air.
"Dengan demikian kita akan memasuki resesi. Dalam beberapa kesempatan kami menyampaikan bahwa pengusaha tidak khawatir dengan resesi, yang dikhawatirkan jika pandemi covid 19 ini berkepanjangan," kata Sarman dalam keterangan tertulis.
Menurut dia, bila pemerintah tak mampu mengontrol kasus baru Covid-19, maka nantinya buka resesi lagi, melainkan akan berlanjut ke depresi ekonomi.
"Maka pengusaha akan bertumbangan dan akan menimbulkan masalah sosial dan berpotensi kita memasuki depresi ekonomi," ujarnya.
4. Covid-19 Buat Utang Meroket hingga Orang Miskin Baru
Wakil Presiden Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa mengatakan, jika tidak diambil tindakan di berbagai bidang, maka pandemi ini dapat mengurangi pertumbuhan regional selama satu dekade yang akan datang sebesar 1 poin presentase per tahun, dengan dampak terbesarnya dirasakan oleh keluarga miskin, karena mereka memiliki lebih sedikit akses kepada fasilitas layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan keuangan.
"Penutupan sekolah akibat Covid-19 dapat menyebabkan hilangnya waktu untuk penyesuaian belajar setara 0,7 tahun bersekolah, di negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik," katanya saat video virtual.
Sebagai akibatnya, rata-rata seorang siswa di kawasan ini mungkin menghadapi penurunan nilai penghasilan sebesar 4% dari yang diharapkan, setiap tahunnya, kelak pada usia produktif mereka.
Kondisi utang negara dan swasta, seiring dengan menurunnya tingkat neraca perbankan dan meningkatnya ketidakpastian, menimbulkan risiko kepada investasi yang dilakukan oleh pihak negara maupun swasta, juga kepada stabilitas perekonomian di saat di mana kawasan ini justru membutuhkan keduanya.
5. Skenario Terburuk Bank Dunia, Ekonomi RI 2020 Minus 2%
Bank Dunia (Word Bank) merilis laporan ekonomi untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik edisi Oktober, From Containment to Recovery. Dalam laporannya, Bank Dunia menyebut bahwa ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh negatif 1,6% tahun ini.
Sementara, dalam skenario terburuk (low case), pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa minus hingga 2%. Prediksi tersebut tercantum dalam tabel yang disajikan Bank Dunia dalam laporannya.
Bank Dunia juga telah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 4,4% tahun 2021 mendatang (baseline). Namun dalam skenario terburuk, pertumbuhannya mungkin hanya 3% saja (low case).
6. Indonesia Resesi, Pengangguran dan Orang Miskin Bakal Makin Banyak
Irjen Kemenkeu Sumiyati mengatakan, perekonomian saat ini sudah terdampak hebat dan diperkirakan pertumbuhannya terus negatif sampai akhir tahun. Hal ini dipastikan mempengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat secara menyeluruh.
"Pengangguran dan juga angka kemiskinan diperkirakan akan naik cukup signifikan di mana kemiskinan kemungkinan akan naik sekitar 3,02 hingga 5,71 juta orang. Dan pengangguran meningkat kurang lebih 4-5,23 juta orang," kata Irjen Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Sumiyati.
7. Indonesia Resesi, 5 Juta Pengangguran Baru Bermunculan
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani memprediksi, jumlah pekerja yang terkena PHK di masa resesi nanti bakal mencapai 5 juta orang. Kondisi itu terjadi, bila pemerintah tak bisa memulihkan perekonomian hingga Desember 2020 mendatang.
"Kalau berkepanjangan terus sampai Desember diperkirakan mencapai 5 juta pengangguran baru," kata Rosan.
8. Ekonomi RI Minus, Tapi Tak Separah Negara Lain
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kontraksi ekonomi terjadi pada perekonomian . di kuartal II dengan pertumbuhan minus 5,32%. Kontraksi ekonomi pin diperkirakan berlanjut pada kuartal III dengan perkiraan pemerintahminus 2,9% hingga minus 1%.
Ketua OJK Wimboh Santoso mengatakan, kontraksi ekonomi yang cukup dalam tak berlebihan rasanya jika patut bersyukur. Sebab, perlambatan ekonomi Indonesia tidaklah seburuk perekonomian di negara-negara lain.
"Hal ini dilihat di semua advanced economies (negara-negara maju) maupun di sebagian besar emerging economies (negara-negara berkembang) yang mayoritas struktur perekonomiannya bergantung pada perdagangan internasional, " kata Wimboh.
9. Persiapan Pelaku Usaha Hadapi Resesi
Menurut Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta Sarman Simanjorang berbagai program pemulihan ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah bukan hanya semata-mata untuk menahan resesi, tapi juga memperhatikan faktor kesehatan. Namun, dengan kondisi ekonomi global seperti ini seluruh negara terancam resesi. Bahkan sudah ada negara lebih dahulu mengalami resesi.
"Akan tetapi ada beberapa cara menghadapinya. Pertama untuk menjaga daya beli masyarakat, kedua bagaimana agar pelaku usaha mampu bertahan, ketiga pelaku UMKM dapat bangkit dan menjadi penopang perekonomian. Dan keempat yang tidak kalah penting walaupun kita masuk resesi akan tetapi pertumbuhan ekonomi kita tidak terkontraksi terlalu dalam," ujar dia kepada Okezone.
Sehingga, lanjut dia ketika nantinya pandemi ini selesai Indonesia cepat tumbuh ke pertumbuhan ekonomi yang positif. "Kita (pelaku usaha), meyakini bahwa fundamental ekonomi kita masih kuat, sehingga pemulihannya akan bisa cepat ketika berbagai aktivitas usaha dan bisnis normal kembali," ungkap dia.
Pihaknya juga memberikan apresiasi dan mendukung penuh berbagai upaya dan usaha Menteri BUMN Erick Thohir dalam pengadaan vaksin Covid-19. Di mana vaksin ini satu-satunya senjata ampuh untuk mempercepat pemulihan ekonomi dan menahan laju resesi.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.