Kisah Pengusaha Furnitur Beralih Produksi Peti Mati

Safira Fitri, Jurnalis · Selasa 13 Oktober 2020 06:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 12 455 2292457 kisah-pengusaha-furnitur-beralih-produksi-peti-mati-sx3PsmzYN6.png Peti Mati (Foto: Sukron/Okezone)

TANGERANG - Lie A Min seorang pengusaha furnitur di masa pandemi ini terpaksa mengubah produksi pabriknya untuk membuat peti mati. Pasalnya, dia harus menerima pesanan peti mati untuk korban virus Covid-19.

Berawal dari meninggalnya salah satu anggota keluarga yang diakibatkan oleh virus Covid-19, Lie A Min mengaku membuatkan peti mati. Setelah itu lantas ia mengubah produksi pabrik miliknya memproduksi peti mati untuk para korban yang terdampak.

Dengan memperkerjakan lebih dari seratus pekerja, setiap bulannya, pabrik tersebut telah memproduksi pesanan lebih dari seribu peti mati yang dikirimkan ke rumah sakit swasta, pemda, yayasan, dan perorangan di berbagai wilayah daerah di Indonesia. Untuk harga peti mati yang ditawarkan dibanderol mulai dari Rp1 juta, hingga lebih dari Rp5 juta, tergantung bahan peti yang digunakan.

"Bulan Maret adik ipar meninggal karena covid, dan saya lihat petinya, ia hanya dibungkus seadanya. Bulan April besan saya meninggal, jadi pas saya lihat kekurangan peti terus saya bikin sample, dan sesudah itu kejadian, saya merasakan beban sekali untuk membantu rumah sakit dan pemerintah yang banyak sekali kekurangan peti," kata dia, Senin (12/10/2020).

"Di bulan April puncak-puncaknya kematian itu bertambah, dan saya berpikir ikut membantu pemerintah. Sebenarnya dua puluh tahun lalu ada teman mengajak saya bikin peti, tapi saya saat itu nggak mau. Saya kiranya kan kalo bikin peti tiap harinya berdoa supaya setiap hari banyak orang meninggal dan saya nggak terlalu tertarik," tambah Lie A Min.

Baca Selengkapnya: Keluarga Meninggal akibat Covid-19, Pengusaha Furnitur Beralih Produksi Peti Mati

 

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini