Keluarga Meninggal akibat Covid-19, Pengusaha Furnitur Beralih Produksi Peti Mati

Sukron, Jurnalis · Senin 12 Oktober 2020 12:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 12 455 2292197 keluarga-meninggal-akibat-covid-19-pengusaha-furnitur-beralih-produksi-peti-mati-hzoHmYrpn7.jpg Peti Mati (Foto: Sukron/Okezone)

TANGERANG - Akibat pandemi Covid-19, kini seorang pengusaha furnitur di Kecamatan Benda, Kota Tangerang terpaksa harus mengubah produksi pabriknya dari biasanya.

Lie A Min sang pemilik pabrik furnitur Funisia Perkasa mengungkapkan, kini pesanan yang diterimanya sangat berbeda dari biasanya. Pasalnya, dia harus menerima pesanan peti mati untuk korban virus Covid-19.

Di samping itu, pesanan yang di terima justru semakin meningkat di tengah melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia.

Baca Juga: Ternak Lele Bermodal Rp3 Juta, Usaha Sampingan Heidi Laris

Berawal dari meninggalnya salah satu anggota keluarga yang diakibatkan oleh virus Covid-19, Lie A Min mengaku membuatkan peti mati. Setelah itu lantas ia mengubah produksi pabrik miliknya memproduksi peti mati untuk para korban yang terdampak.

Bahkan dengan memperkerjakan lebih dari seratus pekerja, setiap bulannya, pabrik tersebut telah memproduksi pesanan lebih dari seribu peti mati yang dikirimkan ke berbagai wilayah daerah di Indonesia.

Seluruh pesanan pun diminta oleh mulai dari rumah sakit swasta, pemda, yayasan, dan perorangan. Sedangkan harga peti mati yang ditawarkan juga beragam, mulai dari Rp1 juta, hingga lebih dari Rp5 juta, tergantnung bahan peti yang digunakan.

Baca Juga: Inovasi, Restoran Ini Laris Manis dengan Tenda hingga Gelembung Plastik

Lie A Min juga mengaku, dirinya tidak berharap pesanan peti mati terus meningkat, meski jumlah kasus Covid-19 di tanah air terus bertambah.

"Bulan Maret adik ipar meninggal karena covid, dan saya lihat petinya, ia hanya dibungkus seadanya. Bulan April besan saya meninggal, jadi pas saya lihat kekurangan peti terus saya bikin sample, dan sesudah itu kejadian, saya merasakan beban sekali untuk membantu rumah sakit dan pemerintah yang banyak sekali kekurangan peti," kata dia, Senin (12/10/2020).

"Di bulan April puncak-puncaknya kematian itu bertambah, dan saya berpikir ikut membantu pemerintah. Sebenarnya dua puluh tahun lalu ada teman mengajak saya bikin peti, tapi saya saat itu nggak mau. Saya kiranya kan kalo bikin peti tiap harinya berdoa supaya setiap hari banyak orang meninggal dan saya nggak terlalu tertarik," tambah Lie A Min.

Hingga saat ini, pabrik furnitur Funsia miliknya yang sudah digeluti puluhan tahun masih berjalan. Pemesan bukan hanya dalam negeri saja, akan tetapi negara sebrang seperti Inggris pun memesan furnitur Funsia pabrikan milik Lie A Mi.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini