Ramalan Terbaru IMF, Ekonomi Dunia Minus 4,4%

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 14 Oktober 2020 12:53 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 14 320 2293428 ramalan-terbaru-imf-ekonomi-dunia-minus-4-4-Em15f62omN.jpg Krisis (Shutterstock)

JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) mengeluarkan prospek terbarunya mengenai ekonomi dunia. Pasalnya, proyeksi ekonomi dunia 2020 kembali direvisi.

Melansir website blog IMF, Jakarta, Rabu (14/10/2020), dalam Prospek Ekonomi Dunia terbaru IMF terus memproyeksikan resesi yang dalam pada tahun 2020. Pertumbuhan global diproyeksikan menjadi minus 4,4%, revisi naik 0,8% dibandingkan dengan prospek yang dikeluarkan bulan Juni.

 Baca juga: Pesan Tegas Sri Mulyani ke Pegawai Bea Cukai

Peningkatan ini disebabkan oleh hasil yang lebih baik di kuartal kedua, serta tanda-tanda pemulihan yang lebih kuat di kuartal ketiga. Sebagian diimbangi oleh penurunan peringkat di beberapa negara berkembang dan berkembang.

Perbedaan prospek pendapatan antara negara maju dan negara berkembang dan negara berkembang (tidak termasuk China) yang dipicu oleh pandemi ini diproyeksikan akan memburuk. IMF meningkatkan perkiraannya untuk ekonomi maju tahun 2020 menjadi minus 5,8%.

 Baca juga: Sri Mulyani Jadi Menteri Keuangan Terbaik, Ini Kata Komisi XI

"Diikuti oleh rebound dalam pertumbuhan menjadi 3,9% pada tahun 2021," kutip proyeksi tersebut.

Untuk negara berkembang (tidak termasuk China), IMF memiliki penurunan peringkat dengan proyeksi pertumbuhan menjadi minus 5,7% di 2020. Kemudian pemulihan menjadi 5% pada 2021.

Dengan ini, pertumbuhan kumulatif pendapatan per kapita untuk pasar berkembang dan ekonomi berkembang (tidak termasuk China) selama tahun 2020–21 diproyeksikan lebih rendah daripada pertumbuhan untuk negara maju.

 Baca juga: Hari Kesaktian Pancasila, Sri Mulyani: Jadikan Sumber Energi Positif Lawan Covid-19

Pandemi virus corona (covid-19) terus menyebar dan telah menyebabkan 1 juta nyawa hilang secara tragis. Oleh karena itu, hidup berdampingan dengan pandemi virus corona telah menjadi tantangan.

Para negara-negara di dunia pun kini sudah mulai bisa beradaptasi. Ekonomi global pun kini sudah mulai bangkit kembali dari keruntuhan yang begitu besar pada paruh pertama tahun ini.

Langkah ini tidak terlepas dari aktivitas dan kebijakan dari bebrapa negara untuk mencegah penyebaran virus corona. Misalnya saja dengan melakukan lockdown dan beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Sentral hingga pemerintah.

Namun krisis ini masih jauh dari selesai. Pekerjaan tetap jauh di bawah tingkat dari sebelum adanya pandemi dan pasar tenaga kerja menjadi lebih terpolarisasi dengan pekerja berpenghasilan rendah, kaum muda, dan perempuan yang terpukul lebih keras.

Orang miskin semakin miskin dengan hampir 90 juta orang diperkirakan akan jatuh ke dalam kemiskinan ekstrim tahun ini. Pendakian dari bencana ini kemungkinan besar akan berlangsung lama, tidak merata, dan sangat tidak pasti.

Penting agar dukungan kebijakan fiskal dan moneter tidak ditarik secara prematur. Sebab pandemi ini merupakan krisis terburuk sejak Depresi Besar, dan diperlukan inovasi yang signifikan di bidang kebijakan, baik di tingkat nasional maupun internasional untuk pulih dari bencana ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini