Neraca Dagang September Diproyeksi Surplus USD2,33 Miliar

Rina Anggraeni, Jurnalis · Kamis 15 Oktober 2020 10:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 15 320 2293913 neraca-dagang-september-diproyeksi-surplus-usd2-33-miliar-R5UQNjWI52.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Neraca perdagangan bulan September diperkirakan surplus USD2,53 miliar dari bulan sebelumnya yang tercatat surplus USD2,33 miliar.

Ekonom Josua Pardede mengatakan meningkatnya surplus perdagangan bulan September dipengaruhi oleh laju tahunan impor yang terkontraksi lebih dalam dibandingkan laju tahunan ekspor.

"Kinerja ekspor Indonesia pada bulan September diperkirakan terkontraksi 8,09% yoy dari bulan sebelumnya yang terkontraksi 8,36% (year on year/yoy)," kata Josua di Jakarta, Kamis (15/10/2020).

Baca Juga: Neraca Dagang Indonesia Surplus USD2,3 Miliar di Agustus 2020 

Dia merinci ekspor bulan September dipengaruhi oleh kenaikan beberapa harga komoditas ekspor seperti CPO (+4,7% mtm); batubara (+3,0% mtm), Karet alam (+4,2% mtm). Sementara itu, perbaikan ekspor bulanan juga didukung oleh peningkatan aktivitas manufaktur dari mitra dagang utama Indonesia seperti EuroZone, AS, Jepang, India, Korea

Sementara itu di sisi yang lain, impor bulan September diperkirakan terkontraksi 26,99% yoy dari bulan sebelumnya yang terkontraksi 24,19% yoy. Laju impor bulanan cenderung melambat mempertimbangkan aktivitas manufaktur Indonesia pada bulan September yang kembali masuk ke fase kontraksi sedemikian sehingga mengindikasikan impor non-migas cenderung melambat.

 

Kontraksi aktivitas manufaktur domestik juga turut dipengaruhi oleh pemberlakuan PSBB di DKI Jakarta. Sementara itu, tren penurunan harga minyak mentah yakni sebesar 7% mtm, mengindikasikan impor migas pun juga melambat.

Jadi secara keseluruhan, neraca perdagangan pada kuartal III 2020 diperkirakan surplus USD8,12 miliar dari kuartal sebelumnya yang tercatat surplus USD2,89 miliar.

"Meskipun pemulihan ekonomi domestik mulai terindikasi pada kuartal III tahun 2020, namun masih lemahnya tingkat konsumsi masyarakat serta rendahnya belanja modal dari sisi produksi mendorong lemahnya impor khususnya impor non-migas," tandasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini