Sri Mulyani Sebut 41% Masyarakat RI Tinggal di Rumah Kumuh

Rina Anggraeni, Jurnalis · Kamis 15 Oktober 2020 15:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 15 470 2294152 sri-mulyani-sebut-41-masyarakat-ri-tinggal-di-rumah-kumuh-7Y1K4tu6Zn.jpg Banyak Masyarakat Tinggal di Rumah Kumuh. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pemerintah terus memperbaiki ekonomi Indonesia, utamanya pada sektor perumahan yang masih perlu dilakukan perbaikan. Menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, masyarakat Indonesia saat ini masih banyak menempati rumah kumuh ketimbang yang layak. Hal ini dikarenakan masih ketimpangan sosial masyarakat.

"Dari aspek kelayakan di mana 41,7% masyarakat atau rumah tangga menempati hunian yang hanya memiliki satu aspek kelayakan dan sebagian di antaranya bahkan menempati pemukiman yang kumuh," kata Sri Mulyani dalam video virtual, Kamis (15/10/2020).

Baca Juga: Kabar Baik, Data BI Ungkap Keuangan Perusahaan Properti Membaik

Dia mengatakan , sektor perumahan memiliki dampak sangat besar bagi perekonomian. Menurutnya, sektor perumahan merupakan salah satu sektor yang penting dan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, serta memiliki efek berantai dan penyerapan tenaga kerja yang signifikan.

"Pengeluaran rumah tangga dari sektor ini akan bisa menambahkan peningkatan PDB sebesar 0,6 hingga 1,4% bisa menyerap tenaga kerja di sektor perumahan sebanyak 4,23 juta orang. Artinya setiap pembiayaan yang dilakukan pada sektor perumahan memiliki dampak yang sangat besar bagi perekonomian," katanya.

Baca Juga: Para Pencari Rumah, Bekasi hingga Depok Jadi Primadona

Menurutnya, perumahan yang terkait properti berpotensi untuk menumbuhkan perekonomian pada sektor lainnya. Dari mulai perdagangan, selain mobil dan motor, jasa real estate, perdagangan mobil dan motor, dan pendidikan, serta juga dari sisi perkembangan jasa atau servis lainnya.

"Sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) maka sektor perumahan akan ditingkatkan kontribusinya terhadap PDB kita dari 2,9% menjadi 4%," tandasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini