Neraca Dagang Surplus 5 Kali Berturut-turut, Baca 3 Faktanya

Giri Hartomo, Jurnalis · Minggu 18 Oktober 2020 08:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 17 320 2295252 neraca-dagang-surplus-5-kali-berturut-turut-baca-3-faktanya-TpYLsf68fJ.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus USD2,44 miliar atau Rp36,02 triliun (mengacu kurs Rp14.700 per USD) pada September.

Adapun, nilai ini diperoleh dari posisi ekspor USD14,01 miliar atau setara Rp206 triliun yang lebih tinggi dibandingkan impor yang mencapai USD11,57 miliar atau setara Rp170 triliun selama September 2020.

Ada sejumlah fakta menarik dari surplusnya neraca perdagangan RI pada September. Berikut beberapa fakta menarik tentang surplusnya neraca dagang RI di September yang dirangkum Okezone, Minggu (18/10/2020).

Baca Juga: Neraca Dagang Indonesia Surplus USD2,3 Miliar di Agustus 2020

1. 5 Kali berturut-turut Surplus

Surplusnya neraca perdagangan pada September ini menjadi yang kelima kali secara berturut-turut. Karena neraca perdagangan Indonesia tercatat sudah mulai surplus sejak Mei 2020 lalu.

Bahkan, neraca perdagangan Indonesia pada September jauh lebih baik. Diketahui neraca perdagangan RI pada Mei mengalami surplus USD2,09 miliar, Juni surplus USD1,27 miliar, Juli surplus USD3,26 miliar , dan Agustus surplus USD2,33 miliar.

 

2. Surplus Terhadap AS tapi Defisit dari China

Badan Pusat Statistik (BPS) memastikan neraca perdagangan Indonesia berhasil surplus. Terutama dengan Amerika Serikat (AS), India, dan Filipina. Namun demikian, masih defisit dengan China, Ukraina, dan Brasil.

Neraca perdagangan dengan AS masih mengalami surplus USD1,08 miliar. Karena ekpsor kita ke USD1,6 miliar dan impor USD607 juta. Dengan India kita juga surplus USD562,5 lalu dengan Filipina kita surplus USD491,2 juta.

Tapi jika dibandingkan dengan Tiongkok Indonesia masih defisit USD 879,2 juta. Dengan Ukraina defisit USD140,1 juta dan Brasil USD 119,3 juta.

3. Pemerintah Diminta Siapkan Skenario

Surplusnya neraca dagang Indonesia selama lima bulan berturut-turut bukan berarti hal yang menggembirakan. Pemerintah harus segera menyiapkan skenario terburuk.

Seperti misalnya stimulus untuk menunjang ekspor termasuk untuk UMKM, pencarian pasar-pasar alternatif serta perbaikan daya beli masyarakat mendesak untuk dipercepat. Semakin lambat respon Pemerintah, dengan data penerima stimulus yang akurasinya rendah maka situasi ekonomi akan memburuk

Sebab surplus yang terus berlanjut mengindikasikan kinerja ekspor masih alami tekanan sejak awal pandemi. Permintaan di negara tujuan utama seperti kawasan ASEAN alami penurunan -13,5% dan Uni Eropa mengalami kontraksi -11,9% yoy sepanjang periode Januari-September 2020.

Di sisi impor yang perlu menjadi perhatian adalah penurunan impor barang konsumsi baik secara bulanan sebesar -6,12% maupun secara kumulatif dari Januari-september 2020 sebesar -9,36%. Penyebab utama menurunnya impor barang konsumsi karena masyarakat kelas menengah ke atas cenderung menunda belanja dan memperbanyak simpanan. Sementara meningkatnya angka PHK akibat pandemi membuat daya beli kelas pekerja semakin turun.

Hal ini juga dipengaruhi oleh belum efektifnya stimulus PEN dalam memicu perbaikan daya beli masyarakat. Penanganan pandemi yang kurang optimal juga membuat keyakinan masyarakat untuk berbelanja masih rendah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini